Friday, January 13, 2012

Apakah Agama Masih Diperlukan?


Saya tidak bermaksud menggugat peran agama disini. Ungkapan judul di atas tak lebih dari upaya mencari jawaban jika muncul pertanyaan itu, terutama dari anak-anak saya, dan terutama karena kekuatiran mereka akan kehilangan iman baik terang-terangan atau diam-diam. Saya terinspirasi oleh Prof. Jeffrey Lang, seorang matematikawan Amerika yang semula beragama Katolik, menjadi atheis, lalu kemudian menjadi seorang Muslim. Dalam upayanya menjelaskan Islam pada anaknya kelak (saat itu), dia telah membuat serangkaian tulisan yang tak dinyana menjadi malah menjadi buku : Bahkan Malaikat Pun Bertanya, Berjuang Untuk Berserah, Aku Beriman Maka Aku Bertanya, Aku Menggugat Maka Aku Kian Beriman.

Bagi saya, cara Sang Profesor mengimani Islam dan upayanya untuk menjadikan Islam untuk menjawab tantangan jaman, sangat menarik. Harus diakui cara kita mengajari anak kita atau mengajak orang lain untuk lebih taat, cenderung condong kepada klaim atas keselamatan di akhirat kelak. Walaupun agama memang diturunkan antara lain untuk keselamatan hidup sesudah mati (yang jauh lebih penting dibanding hidup kita saat ini), tetapi tentu untuk keselamatan dunia saat ini juga. Apa bukti bahwa agama dipahami sebagian besar berdasar klaim keselamatan akhirat? Marilah kita tanya pada diri kita apa yang membuat kita beragama?

Orang Islam akan mengatakan supaya masuk surga (selamat di akhirat) karena tidak ada agama yang diridhio Allah kecuali Islam. Orang Kristen akan mengatakan tidak ada jalan keselamatan kecuali melalui Yesus. Nah, karena bagi sebagian besar kita akhirat itu masih kelak, tak nyata saat ini, kita cenderung gagal memaknai peranan agama dalam keseharian hidup kita. Tak percaya? Ajukan pertanyaan sederhana (tapi tolong jawabannya bukan yang berhubungan dengan pahala atau surga): Apa manfaat kita sholat? Apa manfaat berbuat baik? Bahkan mungkin lebih subversif : Apa manfaat menyembah Allah?

Ketidakmampuan (atau ketidakberanian) mengajukan pertanyaan semacam itu dan menemukan jawabannya, dapat membuat kita diam-diam tak merasa butuh atau malah tak percaya agama (contohnya : banyak orang yang tak menjalankan kewajiban agamanya).
Masalah terbesar yang dihadapi agama manapun, adalah pertanyaan atas relefansinya. Mengapa? Pertanyaan atas relefansi mudah membuat orang kehilangan imannya. Di Eropa ada renaissance (yang katanya pencerahan dari kegelapan agama), sekularisasi, orang cenderung menjadi atheis atau paling tidak “bukan orang taat”. Jika memang agama itu mengajarkan kedamaian mengapa yang terjadi justru perang antar agama, atau bahkan antar pemeluk agama yang sama? Ada Perang Salib, perang antar Kristen-Katolik, perang antara Sunni-Syiah, dan seterusnya.

Dalam tayangan di kanal History, Greatest Tank Battle, ada komandan tank Jerman yang kemudian tak percaya lagi pada Tuhan, bahkan setelah ia selamat berkali-kali dari tembakan langsung yang mengenai tank-nya. Logikanya khan ia harusnya berterima kasih pada Tuhan karena telah diselamatkan nyawanya. Tetapi yang terjadi sebaliknya. Sebab katanya bagaimana mungkin bisa terjadi ia (yang Kristen) berdoa pada Tuhan agar ia bisa mengalahkan tank Rusia, sementara pada saat yang sama si Rusia (yang juga Kristen) berdoa pada Tuhan yang sama agar bisa mengalahkan tank Jerman! Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan hal ini terjadi? Atau mungkin kita pernah mendengar cerita orang yang kehilangan iman karena mendapat cobaan yang sangat berat. Kalau orang yang diam-diam sebenarnya tidak mempunyai iman sih, banyak kita jumpai disekitar kita.

Di jaman ini, pertanyaan semacam itu sangat mungkin tercetus oleh anak-anak kita. Dan, kadang jawaban yang berbau klaim kebenaran primordial tak banyak membantu. Jadi saya mencoba sekuat tenaga mencari jawaban atas pertanyaan itu yang tak berbau klaim kebenaran primordial. Kadang-kadang jawaban berbau kebenaran primordial agak terlalu disederhanakan. Misalnya apa yang harus kita jawab jika anak-anak bertanya : mengapa kita harus sholat? Jawaban yang paling mudah adalah : karena hal itu diperintahkan oleh Allah. Tentu saja jawaban itu benar adanya, tetapi menurut saya tidak cukup. Jawaban seperti itu menurut saya membuat anak berpikir (sadar atau di bawah sadarnya) bahwa Allah memerlukan sholat kita, bahwa Allah perlu disenangkan dengan semacam “upeti”. Padahal sebenarnya Allah tidak butuh semua itu, kitalah yang membutuhkan sholat. So, kalau kita katakan kitalah yang butuh sholat, bisakah kita jelaskan dengan tuntas apa manfaat sholat itu? Apa perbedaan nyata yang kita alami sebelum dan sesudah sholat? Kalau ternyata kita tak mampu menjawabnya, maka diam-diam sebenarnya kita telah mempertontonkan bahwa tidak ada beda antara sholat dan tidak sholat! Kecuali tentu bahwa paling tidak kita tak berdosa, namun masalahnya kok berani-beraninya kita merasa sholat kita diterima? Bukankah Rasulullah SAW mengisyaratkan ada orang yang sholatnya sia-sia,yang berarti tidak diterima alias tak sholat di mata Allah?

Kembali ke judul di atas bisakah kita menjawab pertanyaan itu? Saya pikir mencari jawaban atas pertanyaan itu –beserta pertanyaan turunannya, merupakan pencarian sepanjang hidup. Ia merupakan upaya terus menerus untuk mengenal Sang Khalik, sesuatu yang perlu dikenalkan pada anak-anak kita(###)

Thursday, January 12, 2012

Belajar Agama Cara Unschooling-2 : Melibatkan Allah

Apa yang kita lakukan agar anak-anak memahami Islam? Jawaban pastinya adalah memasukkan ke sekolah dimana porsi pelajaran agamanya banyak. Atau bagi homeschooler, merancang kurikulum pembelajaran mandiri yang syarat nilai-nilai agama. Bagi kami, semua itu baik. Tetapi itu kok rasanya ada yang kurang pas (mungkin sudah bawaan bagi unschooler untuk selalu mempertanyakan hal-hal yang dianggap sudah mapan).

Terus terang saat mencoba untuk merancang kurikulum semacam itu, ada rasa mengganjal di hati, seolah-olah dengan kurikulum canggih itu agama anak-anak kami akan selamat. Kami merasa bertumpu terlalu besar pada kurikulum agama. Kemudian muncul pertanyaan yang dilatari oleh keawaman kami dalam hal agama : masak iya di masa Rasulullah SAW, anak-anak itu (atau orang dewasa) diajari Islam dengan cara itu? Dengan menargetkan hapalan ayat Al-Qur’an, diajari amalan-amalan Islam yang begitu banyak diusia begitu dini? Maafkan keawaman kami, tetapi kami merasa, rasanya kok terlalu berlebihan untuk anak-anak.
Sebagai Muslim tentu kami merasa bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah. Tetapi dibagian mana dalam kurikulum pelajaran agama itu ada porsi melibatkan Allah? Kami yakin saudara-saudara kami sesama Muslim ada yang sedemikian dalam pengetahuannya soal bagaimana mendidik anak sesuai Islam, tetapi kami belum menemukan bagian dimana ada porsi, atau upaya sungguh-sungguh untuk melibatkan Allah. Semakin canggih kurikulumnya kok terasa makin dalam kami tergantung pada kekuatan sendiri.

Kegelisahan itu bermula saat kami membaca (QS 81 : 28-29), bahwa sekalipun kita menghendaki menempuh jalan lurus, kita tidak akan mampu menghendaki kecuali atas kehendak Allah. Bahkan untuk sekadar berkehendak kita tidak mampu! Jadi, rasanya kalau kita berkehendak agar anak-anak kita menjadi baik, semua itu tak akan bisa tanpa keterlibatan Allah. Maka kami merasa logis sekali kalau sebelum merancang metode untuk menjadikan anak-anak ber-Islam dengan baik, yang terlebih dahulu diupayakan adalah melibatkan Allah, agar Ia berkenan menjadikan kita orang Islam yang baik.

Perenungan lebih lanjut membawa kami pada kesadaran bahwa ternyata upaya utama dalam pendidikan anak adalah dengan kesadaran penuh mencoba untuk melibatkan Allah. Berikut ini beberapa ayat yang kami dapat untuk memperoleh gambaran bahwa ternyata tanpa terasa kita “melupakan peranNya”.
  • Bahkan untuk bisa menghindar dari berbuat keji dan mungkar kita perlu Allah (QS 24 :21).
  • Sekadar mendapat petunjuk pun kita perlu Allah (QS 18 : 17)
  • Bahkan untuk beriman pun kita perlu Allah (QS 10 : 99-100)
  • Ia memberi petunjuk pada orang yang Ia ketahui mau menerima petunjuk (QS 28 : 56)

Mungkin secara global kita paham bahwa tentu Allah terlibat setiap aspek kehidupan kita, tetapi untuk urusan tetek bengek  kurikulum pendidikan anak seperti itu? Mungkin sebagian rekan akan mengatakan bahwa Dia terlibat bahkan untuk urusan tetek bengek apapun, sebab bukankah setiap helai daun yang jatuh pun karena kehendakNya?
Namun kalau mau jujur, biasanya untuk urusan apa kita biasanya berdoa? (meminta keterlibatanNya?). Nyaris hampir sebagian besar kita melibatkan Allah untuk urusan yang kita anggap besar, misalnya : utang bertumpuk, penyakit berat yang kita derita, meminta lulus UN, minta rejeki yang banyak, dan seterusnya. Kemudian pernahkan kita mengadu padaNya untuk urusan seperti ini : sendal jepit kita putus, anak kita gak mau diatur, kok gak bisa bangun pagi untuk sholat subuh, kok gak kunjung bergetar saat namaNya disebut, dst-nya . . . . . . . . .

Sedihnya, karena keawaman kami, sumber kurikulum pendidikan terbesar sudah sejak lama ada di depan kami. Tetapi kami mengabaikannya : Al-Qur’an Al-Karim. Allah SWT berbicara dan mendidik kami dengan sarana ini, tetapi kami tidak kunjung memahami ayat-ayat tersebut. Allah terlibat dalam pendidikan kita –berarti juga pendidikan anak-anak kita- (QS 96 : 5), (QS 16 : 78). Kepada lebah pun (QS 16 : 68), pada seorang ibu (QS 28 : 7).

Baiklah, kita libatkan Allah? Tetapi bagaimana caranya? Saya akan uraikan apa yang saya dapat pada tulisan saya selanjutnya. Kali ini saya ingin mengajak untuk bersama-sama memohon sungguh-sungguh padaNya. Lho, apakah selama ini kita tidak sungguh-sungguh memohon padaNya? Jawabnya iya! Marilah kita ukur diri kita masing-masing. Sesungguh apa saat kita meminta dalam pertengahan Surat Al-Fatihah dalam sholat kita? Sesungguh apa kita meminta pada doa dalam duduk diantara dua sujud kita? Apakah itu mengalir begitu saja, atau bahkan sebenarnya hati kita tak pernah memintanya, dan ucapan doa itu berlalu begitu saja saking dari hapalnya?
Bahkan untuk urusan meminta padaNya pun telah diajarkanNya pada kita, namun alangkah sering kita menyia-nyiakannya.(###)

Sunday, December 18, 2011

“Belajar Agama” Cara Unschooling-1

Apakah agama diajarkan? Berlawanan dengan apa yang dijalankan di sekolah atau seperti keyakinan banyak orang, saya berpendapat bahwa agama tidaklah seharusnya “diajarkan”. Mengapa? Saya melihat bahwa tidak ada relevansinya antara pengajaran agama dengan output yang diharapkan dari orang telah belajar agama.

Di IAIN agama diajarkan dalam porsi lebih besar dari rata-rata, tapi saya lihat pergaulan mahasiswanya tidak beda sama orang yang tidak tahu agama. Jamaah haji Indonesia yang terbesar di dunia, dan antrian yang untuk berhaji sudah mencapai hitungan lebih dari 5 tahun, tetapi Indonesia termasuk 5 besar negara terkorup di dunia! Kementrian Agama yang mestinya paling bersih dan paling tinggi indeks integritasnya justru menempati peringkat atas kementrian terkorup di Indonesia. Di komplek saya banyak anak-anak yang bersekolah di sekolah Islam terpadu, tetapi masjid kami diisi kebanyakan oleh orang tua yang sudah pensiun. Lha, yang dipelajari oleh anak-anak di sekolah itu apa, ya? Televisi kita banyak menyajikan acara-acara dakwah, masjid kita banyak, tetapi perilaku kebanyakan kita?

Jadi terus terang saya gagal menangkap relevansi pembelajaran agama dengan perilaku kebanyakan dari kita. Agama diajarkan hanya mempertimbangkan aspek kognitif, pembiasaan kebiasaan baik berbau fait a complii miskin penghayatan iman. Pelajaran agama seolah-olah sudah diberikan jika anak sudah hapal beberapa surat tertentu dari Al-Qur’an, sudah terlihat melaksanakan sholat wajib dan sholat sunnah di sekolah, sudah hapal doa-doa harian, melakukan wirid sehabis sholat, dan seterusnya. Kesimpulan saya bahkan apa yang dilakukan anak-anak itu, kalau dilakukan oleh orang dewasa, ia bakal dikenal sebagai orang alim.

Tetapi, kembali ke pertanyaan di awal, kemana anak-anak itu saat adzan sholat shubuh dan isya? (yang saya tahu paling tidak mereka ada di rumah, jadi mestinya bisa hadir di masjid). Ada yang salah dengan pola pengajaran agama kita.

Standar Kompetensi

Karena tahu bahwa pelajaran agama tidak menghasilkan yang seharusnya, saya tidak mau memakai standar kompetensi sekolah pada umumnya. Jangan salah bukannya tidak bagus, standar kompetensi sekolah sangat bagus. Hanya saja saya melihat bukan begitu seharusnya agama “diajarkan”. Agama bukan diajarkan, ia seharusnya dicontohkan dan dirasakan kehangatan imannya. Jadi menurut saya sebagus apapun ia diajarkan di sekolah, tetapi saat di rumah dan di masyarakat mereka tidak melihat bahwa agama itu berguna, sia-sia pembelajaran itu.

Bagi kami tak soal berapa ayat Al-Quran yang dihapal, berapa doa yang dihapal, berapa macam bentuk ibadah yang dikenal, selama ia mampu merasakan kehangatan iman, selama ia mampu merespon panggilan adzan tanpa keterpaksaan atau pewajiban oleh orang lain, selama akhlaknya baik karena ia merasa nyaman melakukan itu (bukan karena ada lembar yang harus mereka isi) tidaklah menjadi masalah.
Jadi standar kompetensi (kalau mau disebut begitu) bagi saya sederhana saja. Bagaimana responnya soal sholat? Mereka harus bisa sholat karena mereka butuh, bukan karena harus memenuhi isian sekolah, meraka membaca Al-Qur’an karena merasa nikmat membacanya lalu merenungi maknanya dan bukan karena harus memenuhi target tilawah harian.

Pencarian Bersama

Seringkali karena merasa kurang mampu mengajari anak kita tentang agama, kita mendatangkan guru mengaji, atau mengirim mereka ke lembaga lain (pesantren, sekolah Islam). Bagi saya ini aneh, sebab kalau misalnya untuk menjadi orang Islam yang baik kita merasa harus mengirim anak kita ke pesantren, mengapa hal yang sama tidak kita lakukan pada diri kita? Bukankah ini urusan yang sangat besar, menyangkut hidup mati, dan kehidupan kita kelak di akherat?
Atau misalnya untuk menjadi orang Islam yang baik kita harus bisa membaca Al-Qur’an, kenapa yang hal yang sama tidak kita terapkan pada kita. Kenapa kita mendatangkan guru untuk mengajari anak kita, sementara hal yang sama tidak kita lakukan pada diri kita?
Khusus soal agama, menurut saya ia soal pencarian bersama antara kita dan anak kita. Jadi misalnya untuk soal Al-Qur’an, sebelum memutuskan untuk mendatangkan guru, kita sebaiknya menempa diri kita lebih dulu sehingga berada pada level bisa mengajarkan sendiri pada anak kita baik bacaan (tahsin tilawah), hapalan (tahfidz), tafsir, dan perenungan (tadabbur). Kenapa harus demikian? Karena faktor kegagalan pengajaran agama adalah karena tidak adanya konsistensi. Anak diharuskan membaca Al-Qur’an tapi orang tuanya tidak bisa membacanya, anak harus hapal Al-Qur’an tapi orang tuanya bertahun-tahun bahkan juz amma saja tidak hapal. Maka dalam benak anak kita tertanam : kalau nilai-nilai keagamaan itu memang penting, mengapa orang tua saya tidak melakukannya? Kenapa hal-hal itu tidak tercermin dalam keseharian perilaku keagamaan orang tua saya. Kenapa harus saya yang melakukannya?
Bagaimana dengan kehangatan iman? Maka pertanyaan tersebut lebih dulu harus kita tanyakan pada diri kita sendiri? Apakah kita sudah memiliki kehangatan iman? Kalau kita sudah memiliki kehangatan iman, itulah yang harus kita contohkan pada anak kita. Bagaimana respon kita terhadap adzan? Apa yang kita lakukan untuk terus menerus berusaha mengenal Allah?
Anak-anak unschooling akan merespon dengan baik soal nilai-nilai agama selama ia melihat hal serupa dilakukan terutama oleh orang terdekatnya. Kita tak harus mengajarkan apa-apa pada mereka, selama kita melakukan hal-hal tersebut, selama hal itu juga merupakan pencarian kita pribadi, maka insyaallah mereka akan melakukan hal serupa tanpa harus kita suruh-suruh, kita mungkin akan mengajari mereka, namun bukan karena pengharusan dari kita, melainkan karena mereka memintanya.

Saturday, February 13, 2010

Apa Manfaatnya Bagiku

Inilah salah satu tools dalam pembelajaran dengan Quantum Learning. Pembelajaran kuantum mengharuskan adanya relevansi pembelajaran dengan manfaat tertentu yang bisa didapat setelah proses pembelajaran. Tentu agar pembelajaran bisa efektif. Maka setiap siswa diminta mengajukan pertanyaan retoris : Apa Manfaatnya Bagiku? Dalam buku Quantum Learning-nya Bobbi De Porter disingkat menjadi AMBAK.

Tentu saja saya setuju dengan prinsip-prinsip yang diajarkan para ahli tersebut. Namun dalam setting sekolah? Nah, inilah yang saya ragukan. Pertanyaan itu bisa kita ajukan pada diri kita : manfaat apa yang bisa saya dapat jika saya belajar persamaan kuadrat, fungsi trigonometri, sistem koloid, penggolongan hewan bertulang belakang dengan tak bertulang belakang, menghitung azimut, sistem tata surya, mengenal kalimat aktif dan pasif ,dan lain sebagainya?
Saya yakin kita akan kesulitan menjawabnya. Sebabnya? karena semua bahan pelajaran itu dijejalkan dengan asumsi bahwa suatu saat kelak kita akan memerlukannya.
Jika kita yang mempelajari bahan pelajaran tidak tahu untuk apa manfaat suatu topik pada mata pelajaran tertentu, maka sebenarnya menurut prinsip pembelajaran kuantum, apa yang kita pelajari itu sebenarnya tidak efektif.
Seandainya pertanyaan yang sama kita ajukan pada para guru kita, maka jawabannya kurang lebih akan sama : para guru pun tidak tahu, dan saya yakin pula para perancang pendidikan kita juga tidak tahu jawabannya.

Jadi pertanyaan retoris : Apa Manfaatnya Bagiku? dalam setting sekolah sebenarnya hanyalah menciptakan AMBAK semu. Dengan demikian akankah mata pelajaran itu menimbulkan kegairahan tertentu saat kita menekuninya?
AMBAK sebenarnya dimaksudkan untuk memunculkan dorongan intrinsik pada diri kita, dorongan yang benar-benar dari dalam diri kita. Sehingga dengan demikian ada kegairahan untuk mempelajarinya dan karenanya pembelajaran akan berlangsung dengan efektif dan terakselerasi.
Masalahnya semua pelajaran di sekolah sangat sulit untuk bisa membangkitkan dorongan intrinsik tersebut, sebabnya sangatlah sederhana : semua bahan pelajaran itu dirancang oleh orang lain yang merasa bahwa semua bahan itu penting bagi kita. Sebuah dorongan ekstrinsik! yang berlawanan dengan dorongan intrinsik tadi. Jadi ya, sebenarnya nggak nyambung.

Saya menemukan kutipan yang menarik dari Gartner tentang kecenderungan sekolah untuk : ” . . . . .emphasis of basic skill : three R’s (Reading, wRiting, aRithmatic), history, geography, science and an additional learning must be erected upon this solid basis : one must crawl before one can walk”. Jadi sangatlah wajar kalau kemudian kita sangat sulit untuk menemukan AMBAK dalam kaitannya dengan pelajaran-pelajaran sekolah, apalagi kita tak menemukan keterkaitan antara apa yang kita pelajari dengan gambaran besarnya.
Bagaimana mengkompromikannya? Maka sedapat mungkin yang kita lakukan adalah mengaitkan suatu topik pada mata pelajaran itu dengan sesuatu di luar sana, di luar gedung sekolah, yang benar-benar dipraktekkan oleh masyarakat. Bukan hal yang mudah memang, apalagi jika kita tidak benar-benar berminat pada suatu topik. Tapi, ya namanya juga kompromi.

Ada nggak jalan lain yang bukan merupakan sebuah kompromi? Ada! Yaitu, berangkat dari : pertama, apa yang sebenarnya menjadi minat kita dan kedua, apa gambaran besarnya. Kita mempelajari sesuatu karena memang minat kecenderungan kita ada pada hal itu, dan karena tahu apa muara dari sesuatu yang kita pelajari.
Yang pertama (belajar karena minat) akan memunculkan kreatifitas yang, masih menurut Gartner dalam lingkungan belajar yang emphasis of creativity adalah lingkungan belajar dimana tersedia : ”An opportunity for individual to invent knowledge on their own significant extend, to transform what has been encountered in the past, and even contribute new ideas
Dan berlawanan dengan apa yang dipraktekkan di sekolah, lingkungan yang mengutamakan emphasis of creativity akan cenderung untuk : “ . . .downplays basic skills, in the belief that there are unnecessary, that they will be acquired anyway, or that subject to focus only after an ambience of creative exploration
Menurut saya sebuah lingkungan belajar dimana mata pelajaran yang kita pelajari ditentukan oleh orang lain yang merasa bahwa semua itu penting bagi kita, sangatlah sulit memunculkan kreatifitas karena memang emphasis of basic skill yang berlawanan dengan emphasis of creativity yang disyaratkan oleh Gartner itu.
Lingkungan seperti ini akan cenderung memunculkan individu yang menunggu seseorang menyendokkan sesuatu ke mulutnya.

Prinsip kedua (apa gambaran besarnya) akan memandu kita sepanjang proses pembelajaran dan menunjukkan muara dari apa yang kita pelajari itu.
Berlawanan dengan apa yang lazim dilakukan sekolah, yang cenderung memulai suatu materi tanpa adanya kontek, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mencari sesuatu masalah atau topik apapun diluar sana dan membawanya untuk dicari detilnya.
Ijinkan saya untuk menunjukkan contoh dari apa yang saya lakukan. Begitu tahu anak saya tertarik pada robot, kami bersama-sama berusaha untuk mencari keterkaitan antara apa yang menjadi minatnya itu dengan praktek sesungguhnya dari praktisi robotika. Kami mencari gambaran besarnya. Dari pencarian itu kami bisa menunjukkan padanya apa sesungguhnya teknologi robotika itu, apa aplikasinya, apa implikasi teknologi ini bagi masa depan kita dan bidang keilmuan apa yang terkait dengannya. Segera setelah itu kami dan dia jadi akrab dengan istilah-istilah dalam dunia robotika ini : apa itu kontrol, apa itu pemrograman, apa itu kinematika, apa itu dinamika, apa itu artificial intelegence, apa itu behaviorial based programming, apa itu navigasi pada robot, juga tentang embedded system, microprocessor, boolean logic, dan seterusnya.
Karena tahu gambaran besarnya ia bisa menentukan kira-kira dalam dunia robotika itu, akan menjadi apa ia? Dan ilmu apa yang harus tekuni?
Setelah berkutat selama setahun dalam robotika, ia lebih tertarik dengan pemrograman robot. Saat ini ia mulai dengan Bahasa C.
Bagi seorang anak yang dulunya mengidap Atention Deficit Dissorder (ADD) dan sekaligus diduga kuat Dyslexia (kesulitan berkaitan dengan pemaknaan huruf), sebenarnya bukan hal mudah bagi anak saya untuk mempelajari Bahasa C, tetapi karena ia tahu keterkaitan antara apa yang ia pelajari (AMBAK) dengan the real world outside there tak ada keterpaksaan dan kesulitan baginya. Bagi kita yang tak familiar dengan bahasa pemrograman, tulisan kode-kode ini jauh dari menyenangkan dan jauh dari bisa dibaca :

int move_time, turn_time;

task main ( )
{
while (true)
{
move_time = Random (600);
turn_time = Random (400);
OnFwd (OUT_AC, 75);
Wait(move_time);
OnRev (OUT_A,75);
Wait (turn_time);

}
}


Dan bagaimana pula jika yang melakukannya anak umur 11 tahun pengidap Dyslexia?

Menariknya, ilmu-ilmu dasar yang biasanya diajarkan di sekolah muncul bersamaan dengan saat kita berinteraksi dengan robot.
Sebagai contoh saat anak kami belajar tentang navigasi robot, ia kesulitan membuat robotnya bergerak membentuk pola segitiga. Dari masalah inilah maka detil ia peroleh : bahwa sekadar memprogram robot agar bergerak dari satu titik ketitik yang lain secara tepat ia harus paham terlebih dahulu tentang teori lingkaran dan hubungannya dengan jarak, bahwa ia harus memperlakukan roda sebagai sebuah lingkaran . . . . . . bahwa posisi setiap titik bisa dinyatakan dalam bentuk Koordinat Cartesian . . . . bahwa memutar robotnya membentuk sudut tertentu harus terlebih dahulu memahami rumus-rumus trigonometri . . . juga Pithagoras . . . . .
Bahwa ternyata ia harus memodelkan pergerakan roda robotnya sebagai sebuah Persamaan Linier . . . . .bahwa ia masih harus menguji persamaan matematisnya itu secara empirik . . . ia berkenalan sedikit dengan statistika.
Dan semua itu dilakukan dengan penuh minat, karena semua ilmu itu make sense, ia pelajari karena ia ingin permasalahan dalam pergerakan robotnya itu terpecahkan . . .
Masih banyak lagi topik yang menunggu untuk dipelajari saat interaksi dengan robot tersebut : matrik, persamaan dan pertidaksamaan, Persamaan Laplace, Persamaan Lagrange, Jacobian, dan lain sebagainya . . . .
Semua topik tersebut akan terasa mudah, karena muara dari susah-payah mempelajari sesuatu telah diketahui, dan kita telah bersedia untuk membayar semua konsekuensinya (###)

Saturday, January 23, 2010

The Next Scientist?

Sebuah surat kabar memampangkan foto-foto para pemenang olimpiade fisika, matematika, dll . . . untuk menunjukkan pencapaian pendidikan kita dalam bidang ini di tahun 2009. Bangga juga melihat prestasi para pelajar itu, namun yang lebih menarik adalah tulisan dibawah foto-foto tersebut : the next scientist . . . . .
Inilah salah satu dari serangkaian mitos-mitos pendidikan yang bisa menyesatkan. Benarkah ilmuwan dibentuk dari ketrampilan menjawab soal-soal olimpiade? Sejauh yang saya tahu salah satu ketrampilan yang harus dimiliki ilmuwan adalah mengajukan pertanyaan dan berusaha menjawabnya sendiri. Dan bukannya ketrampilan menjawab pertanyaan orang lain.
Itulah yang dilakukan Newton ketika melihat apel yang jatuh, dia mengajukan pertanyaan, mengapa? Jawaban atas pertanyaan yang diajukannya sendiri melahirkan Hukum Newton yang terkenal itu.
Itu pula yang dilakukan oleh Darwin ketika melihat hewan-hewan di Kepulauan Galapagos. Pencarian atas jawaban dari pertanyaan yang memenuhi kepalanya melahirkan Teori Evolusi.

Tak satupun dari para ilmuwan itu dikenal karena kemampuan mereka menyelesaikan soal-soal fisika, biologi, kimia, matematika, atau yang lainnya . . . . . Tak juga para ilmuwan diseluruh dunia dibentuk dari serangkaian drill menjawab soal-soal latihan. . . . .
Karena itulah saya berpendapat bahwa pernyataan the next scientist itu misleading.
Kalau memang benar inovasi bisa dilahirkan dari proses-proses itu, maka kenapa pelajar-pelajar dari negara-negara yang maju dari segi sains tidak pernah mendominasi ajang olimpiade-olimpiade itu?
Kenapa para pemenang nobel atau para penemu yang jenius tidak lahir dari negara yang pelajarnya kerap menjuarai olimpiade sains?
Indonesia juga dikenal dengan kurikulum yang relatif berat untuk level yang sama dibanding misalnya, Amerika? Tapi kita tahu bersama bahwa Amerika yang kurikulumnya tidak ketat itu (dibanding kita) ternyata banyak melahirkan inovasi teknologi.

Jadi inilah mitos itu. Bahwa generasi ilmuwan kita akan diproduksi dari kemampuan kita untuk melatih anak-anak itu untuk menjawab pertanyaan kita. Karena percaya mitos ini kita jadi abai terhadap cara-cara pengukur pemahaman. Howard Gartner sang pakar multiple intelegencies itu mengungkapkan bahwa untuk menguji pemahaman : “ . . . nor repetition of information nor performance but application of concept and principles to question or problem that are newly posed
Padahal seharusnya kita berusaha mendeteksi pemahaman mereka akan sesuatu misalnya dengan apa yang diusulkan oleh Gartner : “That one who understands can exhibit at least some faced of knowledge and performance associated with adult master practitioner in that domain.”
Gartner menunjukkan beberapa penelitian yang mengungkapkan bahwa para pelajar Fisika ternyata tidak mempunyai pemahaman Fisika seperti yang seharusnya dimiliki oleh orang yang mengerti Fisika. Juga tentang pelajaran sejarah yang ternyata tidak menghasilkan pelajar yang memiliki cara berpikir ala sejarahwan.

Saya jadi teringat ucapan Feynman sang pemenang nobel Fisika itu, bahwa Fisika itu seharusnya dipahami dengan membentuk mental model dalam pikiran kita kemudian baru diikuti oleh model matematisnya. Sementara marilah kita berkaca saat kita mempelajari Fisika dahulu, apakah kita memahami Fisika seperti cara-cara ilmuwan Fisika?

Bagaimanakah seharusnya ilmu diajarkan? Seperti apakah produk belajar anak-anak kita? Saya kembali menampilkan dua kontras yang saya kutip dari Gartner dalam buku Unschooled Mind.
Pertama, starting very young to memory list of fact, arithmetict table, geometric proft . . . . . . associated with a successfull quiz show contestant . . . . .
dan dengan Kedua, a rich understanding of the concept and principles underlying bodies of knowledge . . .persons who understand deeply has capacity to explore the world in a numbers of way. . . and who understand concept and principles based on his own exploration and reflection . . .finally reconsiliace the concept and principles that may evolved. . .

Sejauh para pemenang olimpiade-olimpiade tersebut dibentuk dengan prinsip-prinsip diatas, maka tidak ada keraguan. Kita akan memiliki ilmuwan mumpuni di masa depan, tapi kalau tidak . . . sesungguhnya kita hanya menghasilkan kontestan yang memenangi semacam lomba kuis belaka . . (###)

Saturday, November 28, 2009

Pesawat Ini Untuk Ayah!

Hari-hari menjelang Idul Adha ini mengingatkan saya akan peristiwa kurang lebih setahun yang lalu yang terus saya kenang.
Saat itu anak-anak saya sedang keranjingan mainan pesawat terbang yang dapat terbang beneran dengan putaran baling-baling yang digerakkan oleh piston yang mengambil sumber tenaganya dari udara yang dimampatkan.
Anak-anak membeli mainan itu dari hasil uang yang mereka peroleh saat Lebaran sebelumnya.

Bukan mainan itu yang mengesankan saya, melainkan peristiwa yang mengikutinya kemudian. Saat itu saya sedang bertugas di luar kota dan biasa pulang ke rumah tiap 2-3 minggu sekali. Istri sayalah yang menceritakan tentang kehebohan anak-anak yang sedang main pesawat tersebut.
Namun suatu malam istri saya itu mengabarkan sesuatu yang ia minta untuk dirahasiakan dari anak tertua saya. Rupanya anak saya itu sedang menyiapkan sebuah kejutan saat saya pulang nanti.

Ternyata istri saya tak tahan untuk tak membocorkan rahasia itu karena peristiwa itu begitu menggetarkan. Dengan uangnya yang tak seberapa dari hasil kerjanya mengurus kucing kami, anak saya mencoba untuk membelikan sebuah pesawat terbang mainan untuk saya! Ya, untuk saya!
Pesawat terbang itu lebih besar dan tentu saja lebih mahal dari miliknya sendiri. Rupanya saat bermain pesawat terbang itu, anak saya berasumsi bahwa saya pasti akan menyukainya. Karena itulah dia ingin saya memilikinya juga.
Dan karena uang hasil kerjanya tidak cukup untuk membelikan pesawat sampai kedatangan saya, anak saya meminta kesediaan ibunya untuk menambal kekurangannya.

Peristiwa itu amat menggetarkan saya. Mata saya memerah dan air mata saya mengambang di pelupuk mata saya. Bukan hadiah itu yang semata-mata menggetarkan saya, melainkan peristiwa yang terjadi beberapa tahun sebelumnya saat anak saya yang tertua itu berusia 2 tahun (setahun lalu usianya 10 tahun)
Dialah korban dari ketidaksiapan saya menjadi seorang ayah. Saya kerap bertindak kasar dan bahkan memukulnya! Emosi saya gampang meledak hanya karena ulah seorang anak berumur 2 tahun. Walaupun saya kerap menyesali perbuatan itu pada malam hari saat memandang wajah tanpa dosa anak saya yang sedang tertidur, butuh waktu lama untuk bisa berdamai dengan ulahnya. Kerap pada malam-malam itu saya menangis sambil memandangi anak saya yang sedang tidur itu : ”Mengapa harus engkau yang dituntut untuk memahami ayah, dan bukankah ayahmu yang lebih tua inilah yang seharusnya memahamimu? Mengapa jadi terbalik?”

Setelah beberapa saat kemudian saya ”telah siap menjadi seorang ayah” peristiwa itu kerap saya sesali. Saya berdoa agar anak saya itu tidak ”dendam” akibat perlakuan kasar ayahnya dan berharap agar perilaku kasar itu tidak berdampak buruk bagi perkembangan mentalnya.
Untunglah dengan berlalunya waktu, anak saya ”mengkonfirmasikan” bahwa tidak ada efek buruk terhadap perkembangan mentalnya. Salah satunya peristiwa hadiah pesawat mainan tersebut.

Cinta anak saya demikian besarnya, sehingga dia mau memberikan semua (bahkan tak tersisa) dari sedikit yang dimilikinya. Saya pikir inilah sifat asli dari seorang anak yang merupakan pembawaan lahir yang diwariskan dari Tuhannya.
Pertanyaannya, bagaimana kita sebagai orang tuanya menjaga keadaan ”seperti aslinya” itu terus bertahan sampai mereka, anak-anak kita itu, menjadi dewasa?
Anak-anak itu telah mendemonstrasikan pada kita tentang cinta yang tulus, pengorbanan, dan ketidakterikatan pada materi. Apakah sifat-sifat mulia itu hanya ekslusif bagi anak-anak seusia mereka?

Bagi saya sifat-sifat mulia tersebut seharusnya bisa bertahan terus. Dan tugas kitalah untuk mengupayakannya. Saya pikir ini tugas yang berat, karena kita sendiri telah ”tercemar” oleh sifat-sifat buruk. Namun tuntutan untuk menjadikan anak-anak kita bersifat mulia, memaksa kita untuk berperilaku mulia terlebih dahulu. Dan menariknya hubungan kita dan anak kita akan menjadi hubungan saling belajar dimana suatu saat kitalah yang menjadi guru bagi mereka, namun saat yang lain anak kitalah yang menjadi guru bagi kita.
Dan saya merasakannya sekarang, saya telah menjadi orang yang lebih baik karena belajar dari kesalahan yang saya perbuat pada anak-anak saya, dan dari perilaku genuine anak-anak saya.(###)

Tuesday, July 14, 2009

Belajar Dewasa Dengan The Sims

Tidak ada angin tidak ada hujan, suatu saat tiba-tiba saja Tauhid (11 tahun), anak tertua saya bertanya begini :
“Bagaimana hubungan Ayah dengan Bos?”
Maksudmu?”
”Iya, apa hubungan Ayah baik-baik saja. Melakukan pendekatan, nggak?”
Bingung, dengan arah pertanyaannya, saya berusaha mencari tahu kenapa dia bertanya seperti itu. Rupanya dia sedang memainkan game The Sims 3 yang baru saya belikan sebelumnya.

Tertarik dengan pertanyaannya, saya berupaya mengeksplorasi lebih jauh tentang permainan The Sims 3-nya tersebut.
Rupanya Tauhid sedang memainkan peran sebagai polisi dalam game tersebut. Dalam game tersebut tokoh yang diperankan Tauhid berkarir sebagai polisi, mempunyai istri yang pintar masak sekaligus penulis buku. Oh, ya mereka juga punya bayi berumur kurang dari 1 tahun.

***

Anak-anak by nature senang bermain peran. Kita bisa amati bagaimana anak-anak suka berkhayal menjadi dokter, tentara, suka membangun rumah-rumahan dari selimut dan bantal, sebagai sopir dengan memakai kardus bekas sebagai mobil . . . . . .
Bahkan kita, orang dewasa ini juga sebenarnya juga tengah bermain peran. Di rumah kita berperan sebagai ayah atau ibu bagi anak-anak, di kantor kita berperan sebagai insinyur, guru, pialang saham, pemilik bisnis, dan seterusnya . . . . . .
Dengan bermain peran sebenarnya anak-anak sedang mengekplorasi dunia di sekitarnya, mencari kemungkinan-kemungkinan baru, dan menjajagi dunia orang dewasa.

Bayangkan sekarang, kalau anak-anak bisa dengan akurat mengetahui ”dunia dewasa” dan mengkomunikasikan ide-idenya dengan kita? Dan itulah yang terjadi dengan pertanyaan anak saya itu, ia mengkomunikasikan apa yang ia tahu tentang dunia orang dewasa dan mengkonfirmasikan dengan pengalaman orang tuanya.
Dengan premis bahwa anak-anak bersekolah untuk mempersiapkan diri menjadi orang dewasa, game The Sims menawarkan sesuatu yang sulit untuk bisa ditandingi oleh sekolah! The Sims memberikan island of expertise yang akan mengantarkan anak kita pada dialog yang mencerahkan.

Dengan bermain sebagai polisi dalam The Sims, Tauhid tahu apa kewajiban orang dewasa dalam kehidupan rumah tangga : mencari nafkah, mengurus istri dan anak, bersosialisasi dengan tetangga keluarga Sims yang lain, bagaimana meningkatkan karir. Lewat permainan sebagai polisi tersebut (role), Tauhid harus mengikuti aturan (rule) tertentu agar karirnya sebagai polisi dapat meningkat. Sang polisi harus berlatih olah raga agar fisiknya prima, ia juga harus berlatih teknik-teknik interogasi (Tauhid bahkan menceritakan pada saya berbagai macam teknik interogasi), bagaimana caranya menangkap penjahat dengan teknik-teknik inteligen (lihat apa yang ada di tong sampahnya, selidiki teman-temannya, dll), sampai bagaimana membina karir dengan membina hubungan baik dengan atasan! Tauhid bahkan menceritakan pada saya bahwa sebelum melakukan lobbying kita harus memiliki kemampuan atau kapasitas sebagai polisi yang baik terlebih dahulu. Lobbying dilakukan sebagai pelengkap. Jadi, masih menurut Tauhid, tidak bisa tanpa punya kapasitas atau kemampuan yang baik kita lobby atasan kita. Dia akan kurang suka atau tak memperhatikan kita. Anda bayangkan semua itu telah diketahui anak berumur 11 tahun!
Oh, ya masih ada cerita tentang istri sang polisi. Sang istri mempunyai kemampuan sebagai juru masak yang hebat. Untuk mengembangkan karirnya ia berlatih menulis sehingga mampu menghasilkan buku yang best seller. Tauhid berseru pada saya : ”Ayah, ternyata menjadi penulis itu bisa menghasilkan uang yang banyak!”

***
Role and rule, merupakan salah satu unsur dalam game. Dan seperti yang sudah dijelaskan dimuka, bahwa sesungguhnya dunia orang dewasa merupakan dunia role (peran) dengan sejumlah rule (aturan), maka lewat game anak-anak mampu menjelajahi dunia orang dewasa lebih dini tanpa harus benar-benar mengalaminya. Mereka akan mengenal apa yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya, bagaimana belajar disiplin, bagaimana menanggung konsekuensi atas tiap putusan yang dibuat.
Semua ini dimungkinkan karena dalam The Sims, pemain harus mengontrol karakter/sosok yang ia mainkan. Kapan ia makan, apa yang dimakan, bagaimana kalau makannya junk food melulu, kapan ia tidur, kapan mandi, berlatih olah raga, kapan menikmati hiburan, kapan membangun relasi, kapan bekerja, kapan menikah dan punya anak, bagaimana menarik perhatian seorang gadis untuk dijadikan istri, apa yang harus ia lakukan untuk meningkatkan karir dan hidupnya, dll-nya. Bahkan peran apa yang akan dimainkan juga bisa dipilih : polisi, atlet, pebisnis, penulis, diplomat, politikus. . . . . . . . Pokoknya The Sims memang tentang bagaimana hidup, hanya dalam bentuk simulasi.

Kekuatan inilah yang tidak mungkin disediakan oleh sekolah. Dalam The Sims kita bisa meminta anak-anak untuk menjelaskan latar belakang tiap keputusan yang dibuatnya (melalui tokoh yang dimainkannya). Kita juga bisa memberitahu apa yang terjadi dalam game yang tidak terjadi dalam dunia nyata. Mungkin pula bisa dijelaskan pada mereka efek keputusan yang mereka buat yang mempunyai efek berbeda antara dunia game dengan dunia nyata.
The Sims memfasilitasi kita untuk memperbincangkan sesuatu yang benar-benar bernilai. Kita punya sesuatu untuk didiskusikan dan membuat interaksi kita jauh lebih bermakna.

Bagaimana dengan efek buruk? Bagaimana kalau mereka belum pantas tahu sesuatu dalam umur mereka? (katakanlah tentang seks). Saya memilih untuk memaparkan apa adanya daripada memproteksi mereka dalam sesuatu yang kita anggap negatif. Sebab memang itulah kenyataan dunia disekitar kita.
Dalam The Sims ada pergaulan yang menurut kita terlalu bebas, ciuman, pelukan, making love tanpa nikah. Tapi bukankah itu memang ada dalam masyarakat kita? Saya mengambil posisi untuk menjelaskan hal itu dari sudut pandang nilai-nilai atau agama yang kita yakini. Saya bisa katakan pada mereka, okey hal itu tak sesuai dengan agama kita. Seharusnya . . . bla . . .bla . . .bla. Akan saya jelaskan pula, bahwa ada orang-orang yang punya nilai berbeda dibanding kita. Dan itu nyata.
Dengan demikian, anak kita tak akan terkaget-kaget melihat dunia nyata yang selama ini disembunyikan dari mereka. Bukankah mereka lebih baik tahu sesuatu dari kita dibandingkan tahu dari teman sebaya mereka?
Dalam game yang lain yang cukup vulgar, Grand Theft Auto, Tauhid bertanya pada istri saya apa itu wanita yang berpakaian ”tidak seperti yang biasa aku lihat”. Istri saya katakan padanya bahwa wanita seperti itu (dalam game tsb) adalah pelacur. Walaupun tidak semua wanita yang berpakaian macam itu (seronok) berarti pelacur.

Terakhir, dengan bermain The Sims, kemampuan Bahasa Inggris anak saya meningkat. Tentu saja, karena semua info dan perintah tersaji dalam Bahasa Inggris. Sedangkan saya dan istri saya tidak pernah mendampingi dia dalam bermain. Maka mau tak mau ia harus memahami apa yang tertulis tersebut (kalau tidak maka ia tak akan dapat memainkan game tersebut). Selama ia terus memainkan tokoh dalam The Sims sampai pada tahapan tertinggi berarti ia memahami Bahasa Inggris dalam game tersebut.
Menurut saya inilah cara alami untuk belajar bahasa. Inilah cara bayi belajar bahasa, bukan? Lain dengan anak yang tahu kosakata Bahasa Inggris tanpa tahu kapan digunakan. Kerap kita lihat anak-anak usia SD main tebak-tebakan kata dalam Bahasa Inggris. Apa Bahasa Inggrisnya gajah? Bahasa Inggrisnya kuda? dan seterusnya . . . .
Lagi pula Anda nggak pernah main tebak-tebakan kata dalam Bahasa Jawa dengan bayi Anda bukan? (###)