19 Juli 2013

Dilema Pendidikan : Teori versus Praktek

Sebuah artikel di Amerika baru-baru ini melaporkan bahwa para mahasiswa memasuki fakultas kedokteran dengan empati dan semangat untuk menolong orang lain namun lulus dari studinya dengan membawa sifat dingin dan acuh tak acuh.

Hal ini mungkin merupakan refleksi dari pola pendidikan kedokteran umumnya yang terdiri dari 2 tahapan pendidikan. Tahap pertama pendidikan mereka seperti layaknya sekolah pada umumnya : kuliah, buku-buku teks, serangkaian tes akademik. Umumnya para mahasiswa tersebut melalui tahap ini dengan baik, karena hal-hal seperti ini sudah familiar bagi mereka.Mereka sudah mengenalnya sejak di bangku taman kanak-kanak.


Nah, masalah dimulai ketika memasuki Tahap Kedua dari pendidikan mereka, dimana ada perubahan paradigma secara tiba-tiba dari pendidikan berbasis pengetahuan/teori (knowledge based education) ke pendidikan berbasis praktek (practice based education).

Saat memasuki Tahap Kedua pendidikan mereka telah dibekali dengan pengetahuan (teori) yang cukup kaya namun tidak cukup terdidik untuk bagaimana mengaplikasikan pengetahuan mereka tersebut.
Namun tidak ada waktu untuk mundur, mereka harus melakukan praktik kerja tersebut dengan mengabaikan isu kelangkaan suplai, isu seputar asuransi (USA menggunakan sistem asuransi dalam pelayanan kesehatan), mengesampingkan kenyataan bahwa pasien harus didekati dengan pendekatan berbeda, adanya kesalahan medis dan lain-lain yang terkait dengan permasalahan dunia kedokteran sehari-hari.

Permasalahan serupa juga dialami oleh mahasiswa hukum. Sekolah hukum disana menghadapi masalah besar dalam merekrut calon mahasiswa yang berkualitas sementara lapangan kerja bidang hukum sudah sangat jenuh. Akar masalahnya sama : sistem pengajaran yang tak menyentuh dunia nyata.

Bahkan pendidikan keguruan tidak terkecuali. Kurikulum umumnya dirancang dengan memasukkan kuliah pada bidang ilmu yang akan diajarkan kelak, psikologi pendidikan, dan cara bagaimana mengajar.
"Kurikulum pendidikan guru membingungkan, tidak ada hubungan antara pengetahuan akademis dan pengetahuan praktis " kata Arthur Levine mantan Dekan Fakultas Keguruan Universitas Colombia.

Melihat contoh diatas sepertinya pendidikan profesi (dokter, insinyur, pengacara, guru, dll) menghadapi masalah yang hampir sama : Bagaimana cara universitas menyiapkan mahasiswa untuk kebutuhan tenaga kerja Abad 21 tanpa mengabaikan misi utama pendidikan mereka?
Menurut Michael Lindsey, president of Gordon College : "Kita harus membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir holistik"
Perguruan Tinggi dapat melakukannya dengan mendorong mahasiswa untuk mengeksplorasi dunia kerja atau profesi mereka , menyadari bahwa memisahkan teori dengan praxis akan merugikan keduanya.

Beberapa program profesi menempuh berbagai cara untuk menjembatani jurang teori dengan praktek ini. Sekolah kedokteran merombak kurikulum mereka dengan membekali pengalama praktek di klinik yang lebih dalam dan  meluas.
Begitu pula sekolah hukum, mereka menggabungkannya dengan klinik hukum yang mencakup hukum lingkungan, hukum publik, hukum pidana, dll.

Hanya saja penggabungan seperti itu berbiaya tinggi dan umumnya diterapkan pada masa-masa terakhir pendidikan profesi.
Disatu sisi keuntungan terbesar penggunaam virtual environment adalah rendah biaya, serta terdapat potensi yang luar biasa besar untuk memadukan aspek teori dan praktek  mulai pada tahap awal pendidikan.

Maka menggunakan virtual environment sebagai cara untuk magang dan mendapatkan pengetahuan praktis, tampaknya berada diambang pintu (***)

30 April 2013

Saya Tidak Sekolah, Saya Bekerja


Kalimat tersebut adalah jawaban anak saya ketika dia ditanya seseorang : sekolah dimana? Sebenarnya itu pertanyaan lumrah dan normal yang ditujukan untuk anak seusia anak saya yang baru menginjak 14 tahun (2012). Yang barangkali tidak lumrah adalah memang keseharian anak saya, diusia tersebut ketika anak lain bersekolah SMP, anak saya sudah bekerja pada bidang yang memang dia tekuni : komputer, programming dan 3D Modelling.

Bagaimana bisa seperti itu? Hal ini menjadi mungkin karena kami menganut home education dengan gaya unschooling. Alih-alih mengikuti kurikulum yang rigid, saya membebaskan mereka untuk mempelajari apa saja yang mereka mau dan penting bagi mereka. Anak anak saya tidak akan dipaksa untuk mempelajari sesuatu yang tidak mereka mau atau mereka anggap tidak penting. Saya menganut apa yang John Dewey katakan bahwa sekolah adalah kehidupan itu sendiri dan bahwa anak-anak menjalani kegiatan yang otentik dan nyata.


Saya percaya bahwa kekuatan terbesar sebuah pembelajaran adalah ketika anak-anak mengikuti hasrat (passion) mereka dan mempelajari apa yang mereka anggap penting. Jadi saya katakan pada anak-anak saya pelajari apa-apa yang dilakukan oleh orang dewasa dan lihat bagaimana mereka mempelajarinya. Nah, ketika anak-anak usia sekolah mempelajari pelajaran yang disiapkan oleh kurikulum mereka, anak saya melihat hal yang cool yang dilakukan oleh orang dewasa yang mereka lihat di TV atau lingkungan sekitar. Untuk anak tertua saya, dia tertarik pada game dan lalu berusaha mencari tahu bagaimana sebuah game dibuat? Tool apa yang digunakan? Mulailah dia berkenalan dengan dunia pemrograman dan pemodelan 3 dimensi (3D).

Nah, ketika teman sebayanya sibuk dengan PR mereka, segala macam les, dan –tentu saja- persiapan UN, anak saya sibuk dengan bagaimana membuat model orang, pesawat terbang, senapan, pistol, kapal, tank, rumah, dan lain-lain. Bagaimana membuat sebuah program untuk menjalankan itu semua, dan pada saat bersamaan dengan itu dia membangun portofolionya.  
Jadi tidak aneh ketika kesempatan itu tiba, sebuah pekerjaan yang ternyata mensyaratkan skill yang dibawah kemampuan dia yang sebenarnya, dia bisa melakukannya. Terpapar pada dunia kerja yang sebenarnya, kehidupan yang sebenarnya, saya yakin dia akan mempelajari lebih banyak hal lagi. Dan itu adalah sekolah yang sesungguhnya (###)

25 April 2013

Belajar Agama Cara Unschooling-3 : Tentang Al-Qur'an


Pada bagian-2 dari tulisan ini saya menyinggung tentang melibatkan Allah dalam pendidikan anak-anak kita (sesungguhnya pendidikan bagi kita yang dewasa juga). Saat mencoba untuk melibatkan Allah, tentu yang terbayang adalah bagaimana caranya? Caranya tentu saja dengan cara yang umum yang Dia isyaratkan sendiri : melalui Al-Qur’an. Semua Muslim tentu saja tahu hal ini, namun selayaknya unschooler saya cenderung tidak nyaman dengan cara kebanyakan Muslim bersikap terhadap Al-Qur’an. Karena itu anda akan menjumpai pemikiran saya yang mungkin berbeda dari yang biasanya kita ketahui. Tetapi saya tak hendak membuat kontroversi, sesungguhnya apa yang saya ungkap itu sudah ada dalam khazanah keislaman sejak dulu, tetapi entah kenapa pandangan yang agak “berbeda” ini tidak populer.
Jadi cara berkomunikasi dengan Allah yang saya maksud adalah upaya berinteraksi dengan Al-Qur’an semaksimal mungkin seperti yang dilakukan para sahabat dan salafusshalih.

Untuk memahami Al-Qur’an bacalah Al-Qur’an lebih dulu, bukan tafsir Al-Qur’an.

Umumnya sebagian besar kita memperlakukan Al-Qur’an lebih sebagai sarana untuk mendulang pahala dan mengharap berkah belaka tanpa berupaya memahami artinya. Sayangnya terlalu besar menaruh perhatian pada urusan ini, membuat abai terhadap tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an : sebagai petunjuk bagi kita. Bagaimana ia bisa menjadi petunjuk kalau kita tak paham dengan apa yang dibaca?
Mengapa yang dibaca terlebih dahulu adalah Al-Qur’an dan bukan tafsir Al-Qur’an? Karena memang itulah yang diperintahkan. Para sahabat membaca Al-Qur’an semampu yang mereka pahami, walaupun keahlian mereka dalam memahami berbeda. Tidak semua sahabat berkemampuan seperti Ibnu Abbas ra atau Ibnu Mas’ud ra, toh tidak menghalangi mereka untuk mencoba memahami Al-Quran.

Saya juga berkeyakinan bahwa interaksi dengan Al-Quran secara langsung akan memberikan pemahaman yang genuine. Saya menerka-nerka bahwa peluang untuk berbeda cara memahami dan berinteraksi ini memang dibiarkan oleh Rasulullah SAW. Sebab kalau tidak tentu pemahaman akan Al-Quran ini seragam, tidak ada lagi tafsir Ibnu Abbas, tidak ada lagi tafsir Ibnu Masud?
Jadi langkah praktis yang kami lakukan adalah membaca Al-Quran beserta artinya (terjemahan standar yang diakui/sah) dan mencoba memahaminya dan merenunginya sedapat yang bisa dilakukan. Kalau kemudian ada beberapa kata spesifik yang kita tidak paham artinya atau butuh penjelasan barulah kita merujuk pada tafsir terpercaya.

Untuk memahami Al-Quran bacalah dalam shalat terutama shalat malam.

Inilah cara baca Al-Quran yang paling utama. Hal ini pula yang diterapkan oleh para sahabat. Tentu saja bacaan tersebut harus disertai dengan pemahaman akan arti ayat-ayat yang dibaca. Jamak bagi para sahabat untuk mengkaji, mencari tahu ayat yang belum dipahami, dan membaca sejumlah ayat tertentu dari Al-Quran pada siang harinya, dan menggunakan malam hari terutama saat sholat malam sebagai sarana untuk merenungi makna-makna Al-Quran. Disaat sholat malam itulah Allah SWT, insyaallah akan menurunkan pemahaman dalam dada kita, memberbaiki kelemahan kita, meninggikan derajat kita, memuliakan kita.

Secara praktis saya menyarankan untuk membagi Al-Quran yang kita hapal (berapapun itu) menjadi 7 bagian. Mengkaji 1/7 bagian diwaktu siang dan merenungi maknanya diwaktu malam. Setiap kali hapalan bertambah selalu organisasikan lagi menjadi 7 bagian. Dengan cara begini maka waktu sholat malam kita dengan mambaca Al-Quran yang kita hapal akan selalu bertambah. Awalnya 1/8 juz setiap malam, menjadi 1/6 juz, 1/4 juz, 1/2 juz, 1 juz . . . . dan akhirnya jika kita teladani para sahabat, maka kita akan mengkhatamkan Al-Quran dalam sepekan lengkap dengan perenungannya (tadabbur).

Saya berkeyakinan melalui interaksi dengan Al-Quran seperti yang ditunjukkan olehNya, diteladankan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya, maka Allah SWT sendiri yang akan memahamkan makna Al-Quran, dan Dia sendiri pula yang akan menyempurnakan kita (###)

13 Januari 2012

Apakah Agama Masih Diperlukan?


Saya tidak bermaksud menggugat peran agama disini. Ungkapan judul di atas tak lebih dari upaya mencari jawaban jika muncul pertanyaan itu, terutama dari anak-anak saya, dan terutama karena kekuatiran mereka akan kehilangan iman baik terang-terangan atau diam-diam. Saya terinspirasi oleh Prof. Jeffrey Lang, seorang matematikawan Amerika yang semula beragama Katolik, menjadi atheis, lalu kemudian menjadi seorang Muslim. Dalam upayanya menjelaskan Islam pada anaknya kelak (saat itu), dia telah membuat serangkaian tulisan yang tak dinyana menjadi malah menjadi buku : Bahkan Malaikat Pun Bertanya, Berjuang Untuk Berserah, Aku Beriman Maka Aku Bertanya, Aku Menggugat Maka Aku Kian Beriman.

Bagi saya, cara Sang Profesor mengimani Islam dan upayanya untuk menjadikan Islam untuk menjawab tantangan jaman, sangat menarik. Harus diakui cara kita mengajari anak kita atau mengajak orang lain untuk lebih taat, cenderung condong kepada klaim atas keselamatan di akhirat kelak. Walaupun agama memang diturunkan antara lain untuk keselamatan hidup sesudah mati (yang jauh lebih penting dibanding hidup kita saat ini), tetapi tentu untuk keselamatan dunia saat ini juga. Apa bukti bahwa agama dipahami sebagian besar berdasar klaim keselamatan akhirat? Marilah kita tanya pada diri kita apa yang membuat kita beragama?

Orang Islam akan mengatakan supaya masuk surga (selamat di akhirat) karena tidak ada agama yang diridhio Allah kecuali Islam. Orang Kristen akan mengatakan tidak ada jalan keselamatan kecuali melalui Yesus. Nah, karena bagi sebagian besar kita akhirat itu masih kelak, tak nyata saat ini, kita cenderung gagal memaknai peranan agama dalam keseharian hidup kita. Tak percaya? Ajukan pertanyaan sederhana (tapi tolong jawabannya bukan yang berhubungan dengan pahala atau surga): Apa manfaat kita sholat? Apa manfaat berbuat baik? Bahkan mungkin lebih subversif : Apa manfaat menyembah Allah?

Ketidakmampuan (atau ketidakberanian) mengajukan pertanyaan semacam itu dan menemukan jawabannya, dapat membuat kita diam-diam tak merasa butuh atau malah tak percaya agama (contohnya : banyak orang yang tak menjalankan kewajiban agamanya).
Masalah terbesar yang dihadapi agama manapun, adalah pertanyaan atas relefansinya. Mengapa? Pertanyaan atas relefansi mudah membuat orang kehilangan imannya. Di Eropa ada renaissance (yang katanya pencerahan dari kegelapan agama), sekularisasi, orang cenderung menjadi atheis atau paling tidak “bukan orang taat”. Jika memang agama itu mengajarkan kedamaian mengapa yang terjadi justru perang antar agama, atau bahkan antar pemeluk agama yang sama? Ada Perang Salib, perang antar Kristen-Katolik, perang antara Sunni-Syiah, dan seterusnya.

Dalam tayangan di kanal History, Greatest Tank Battle, ada komandan tank Jerman yang kemudian tak percaya lagi pada Tuhan, bahkan setelah ia selamat berkali-kali dari tembakan langsung yang mengenai tank-nya. Logikanya khan ia harusnya berterima kasih pada Tuhan karena telah diselamatkan nyawanya. Tetapi yang terjadi sebaliknya. Sebab katanya bagaimana mungkin bisa terjadi ia (yang Kristen) berdoa pada Tuhan agar ia bisa mengalahkan tank Rusia, sementara pada saat yang sama si Rusia (yang juga Kristen) berdoa pada Tuhan yang sama agar bisa mengalahkan tank Jerman! Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan hal ini terjadi? Atau mungkin kita pernah mendengar cerita orang yang kehilangan iman karena mendapat cobaan yang sangat berat. Kalau orang yang diam-diam sebenarnya tidak mempunyai iman sih, banyak kita jumpai disekitar kita.

Di jaman ini, pertanyaan semacam itu sangat mungkin tercetus oleh anak-anak kita. Dan, kadang jawaban yang berbau klaim kebenaran primordial tak banyak membantu. Jadi saya mencoba sekuat tenaga mencari jawaban atas pertanyaan itu yang tak berbau klaim kebenaran primordial. Kadang-kadang jawaban berbau kebenaran primordial agak terlalu disederhanakan. Misalnya apa yang harus kita jawab jika anak-anak bertanya : mengapa kita harus sholat? Jawaban yang paling mudah adalah : karena hal itu diperintahkan oleh Allah. Tentu saja jawaban itu benar adanya, tetapi menurut saya tidak cukup. Jawaban seperti itu menurut saya membuat anak berpikir (sadar atau di bawah sadarnya) bahwa Allah memerlukan sholat kita, bahwa Allah perlu disenangkan dengan semacam “upeti”. Padahal sebenarnya Allah tidak butuh semua itu, kitalah yang membutuhkan sholat. So, kalau kita katakan kitalah yang butuh sholat, bisakah kita jelaskan dengan tuntas apa manfaat sholat itu? Apa perbedaan nyata yang kita alami sebelum dan sesudah sholat? Kalau ternyata kita tak mampu menjawabnya, maka diam-diam sebenarnya kita telah mempertontonkan bahwa tidak ada beda antara sholat dan tidak sholat! Kecuali tentu bahwa paling tidak kita tak berdosa, namun masalahnya kok berani-beraninya kita merasa sholat kita diterima? Bukankah Rasulullah SAW mengisyaratkan ada orang yang sholatnya sia-sia,yang berarti tidak diterima alias tak sholat di mata Allah?

Kembali ke judul di atas bisakah kita menjawab pertanyaan itu? Saya pikir mencari jawaban atas pertanyaan itu –beserta pertanyaan turunannya, merupakan pencarian sepanjang hidup. Ia merupakan upaya terus menerus untuk mengenal Sang Khalik, sesuatu yang perlu dikenalkan pada anak-anak kita(###)

12 Januari 2012

Belajar Agama Cara Unschooling-2 : Melibatkan Allah

Apa yang kita lakukan agar anak-anak memahami Islam? Jawaban pastinya adalah memasukkan ke sekolah dimana porsi pelajaran agamanya banyak. Atau bagi homeschooler, merancang kurikulum pembelajaran mandiri yang syarat nilai-nilai agama. Bagi kami, semua itu baik. Tetapi itu kok rasanya ada yang kurang pas (mungkin sudah bawaan bagi unschooler untuk selalu mempertanyakan hal-hal yang dianggap sudah mapan).

Terus terang saat mencoba untuk merancang kurikulum semacam itu, ada rasa mengganjal di hati, seolah-olah dengan kurikulum canggih itu agama anak-anak kami akan selamat. Kami merasa bertumpu terlalu besar pada kurikulum agama. Kemudian muncul pertanyaan yang dilatari oleh keawaman kami dalam hal agama : masak iya di masa Rasulullah SAW, anak-anak itu (atau orang dewasa) diajari Islam dengan cara itu? Dengan menargetkan hapalan ayat Al-Qur’an, diajari amalan-amalan Islam yang begitu banyak diusia begitu dini? Maafkan keawaman kami, tetapi kami merasa, rasanya kok terlalu berlebihan untuk anak-anak.
Sebagai Muslim tentu kami merasa bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah. Tetapi dibagian mana dalam kurikulum pelajaran agama itu ada porsi melibatkan Allah? Kami yakin saudara-saudara kami sesama Muslim ada yang sedemikian dalam pengetahuannya soal bagaimana mendidik anak sesuai Islam, tetapi kami belum menemukan bagian dimana ada porsi, atau upaya sungguh-sungguh untuk melibatkan Allah. Semakin canggih kurikulumnya kok terasa makin dalam kami tergantung pada kekuatan sendiri.

Kegelisahan itu bermula saat kami membaca (QS 81 : 28-29), bahwa sekalipun kita menghendaki menempuh jalan lurus, kita tidak akan mampu menghendaki kecuali atas kehendak Allah. Bahkan untuk sekadar berkehendak kita tidak mampu! Jadi, rasanya kalau kita berkehendak agar anak-anak kita menjadi baik, semua itu tak akan bisa tanpa keterlibatan Allah. Maka kami merasa logis sekali kalau sebelum merancang metode untuk menjadikan anak-anak ber-Islam dengan baik, yang terlebih dahulu diupayakan adalah melibatkan Allah, agar Ia berkenan menjadikan kita orang Islam yang baik.

Perenungan lebih lanjut membawa kami pada kesadaran bahwa ternyata upaya utama dalam pendidikan anak adalah dengan kesadaran penuh mencoba untuk melibatkan Allah. Berikut ini beberapa ayat yang kami dapat untuk memperoleh gambaran bahwa ternyata tanpa terasa kita “melupakan peranNya”.
  • Bahkan untuk bisa menghindar dari berbuat keji dan mungkar kita perlu Allah (QS 24 :21).
  • Sekadar mendapat petunjuk pun kita perlu Allah (QS 18 : 17)
  • Bahkan untuk beriman pun kita perlu Allah (QS 10 : 99-100)
  • Ia memberi petunjuk pada orang yang Ia ketahui mau menerima petunjuk (QS 28 : 56)

Mungkin secara global kita paham bahwa tentu Allah terlibat setiap aspek kehidupan kita, tetapi untuk urusan tetek bengek  kurikulum pendidikan anak seperti itu? Mungkin sebagian rekan akan mengatakan bahwa Dia terlibat bahkan untuk urusan tetek bengek apapun, sebab bukankah setiap helai daun yang jatuh pun karena kehendakNya?
Namun kalau mau jujur, biasanya untuk urusan apa kita biasanya berdoa? (meminta keterlibatanNya?). Nyaris hampir sebagian besar kita melibatkan Allah untuk urusan yang kita anggap besar, misalnya : utang bertumpuk, penyakit berat yang kita derita, meminta lulus UN, minta rejeki yang banyak, dan seterusnya. Kemudian pernahkan kita mengadu padaNya untuk urusan seperti ini : sendal jepit kita putus, anak kita gak mau diatur, kok gak bisa bangun pagi untuk sholat subuh, kok gak kunjung bergetar saat namaNya disebut, dst-nya . . . . . . . . .

Sedihnya, karena keawaman kami, sumber kurikulum pendidikan terbesar sudah sejak lama ada di depan kami. Tetapi kami mengabaikannya : Al-Qur’an Al-Karim. Allah SWT berbicara dan mendidik kami dengan sarana ini, tetapi kami tidak kunjung memahami ayat-ayat tersebut. Allah terlibat dalam pendidikan kita –berarti juga pendidikan anak-anak kita- (QS 96 : 5), (QS 16 : 78). Kepada lebah pun (QS 16 : 68), pada seorang ibu (QS 28 : 7).

Baiklah, kita libatkan Allah? Tetapi bagaimana caranya? Saya akan uraikan apa yang saya dapat pada tulisan saya selanjutnya. Kali ini saya ingin mengajak untuk bersama-sama memohon sungguh-sungguh padaNya. Lho, apakah selama ini kita tidak sungguh-sungguh memohon padaNya? Jawabnya iya! Marilah kita ukur diri kita masing-masing. Sesungguh apa saat kita meminta dalam pertengahan Surat Al-Fatihah dalam sholat kita? Sesungguh apa kita meminta pada doa dalam duduk diantara dua sujud kita? Apakah itu mengalir begitu saja, atau bahkan sebenarnya hati kita tak pernah memintanya, dan ucapan doa itu berlalu begitu saja saking dari hapalnya?
Bahkan untuk urusan meminta padaNya pun telah diajarkanNya pada kita, namun alangkah sering kita menyia-nyiakannya.(###)

18 Desember 2011

“Belajar Agama” Cara Unschooling-1

Apakah agama diajarkan? Berlawanan dengan apa yang dijalankan di sekolah atau seperti keyakinan banyak orang, saya berpendapat bahwa agama tidaklah seharusnya “diajarkan”. Mengapa? Saya melihat bahwa tidak ada relevansinya antara pengajaran agama dengan output yang diharapkan dari orang telah belajar agama.

Di IAIN agama diajarkan dalam porsi lebih besar dari rata-rata, tapi saya lihat pergaulan mahasiswanya tidak beda sama orang yang tidak tahu agama. Jamaah haji Indonesia yang terbesar di dunia, dan antrian yang untuk berhaji sudah mencapai hitungan lebih dari 5 tahun, tetapi Indonesia termasuk 5 besar negara terkorup di dunia! Kementrian Agama yang mestinya paling bersih dan paling tinggi indeks integritasnya justru menempati peringkat atas kementrian terkorup di Indonesia. Di komplek saya banyak anak-anak yang bersekolah di sekolah Islam terpadu, tetapi masjid kami diisi kebanyakan oleh orang tua yang sudah pensiun. Lha, yang dipelajari oleh anak-anak di sekolah itu apa, ya? Televisi kita banyak menyajikan acara-acara dakwah, masjid kita banyak, tetapi perilaku kebanyakan kita?

Jadi terus terang saya gagal menangkap relevansi pembelajaran agama dengan perilaku kebanyakan dari kita. Agama diajarkan hanya mempertimbangkan aspek kognitif, pembiasaan kebiasaan baik berbau fait a complii miskin penghayatan iman. Pelajaran agama seolah-olah sudah diberikan jika anak sudah hapal beberapa surat tertentu dari Al-Qur’an, sudah terlihat melaksanakan sholat wajib dan sholat sunnah di sekolah, sudah hapal doa-doa harian, melakukan wirid sehabis sholat, dan seterusnya. Kesimpulan saya bahkan apa yang dilakukan anak-anak itu, kalau dilakukan oleh orang dewasa, ia bakal dikenal sebagai orang alim.

Tetapi, kembali ke pertanyaan di awal, kemana anak-anak itu saat adzan sholat shubuh dan isya? (yang saya tahu paling tidak mereka ada di rumah, jadi mestinya bisa hadir di masjid). Ada yang salah dengan pola pengajaran agama kita.

Standar Kompetensi

Karena tahu bahwa pelajaran agama tidak menghasilkan yang seharusnya, saya tidak mau memakai standar kompetensi sekolah pada umumnya. Jangan salah bukannya tidak bagus, standar kompetensi sekolah sangat bagus. Hanya saja saya melihat bukan begitu seharusnya agama “diajarkan”. Agama bukan diajarkan, ia seharusnya dicontohkan dan dirasakan kehangatan imannya. Jadi menurut saya sebagus apapun ia diajarkan di sekolah, tetapi saat di rumah dan di masyarakat mereka tidak melihat bahwa agama itu berguna, sia-sia pembelajaran itu.

Bagi kami tak soal berapa ayat Al-Quran yang dihapal, berapa doa yang dihapal, berapa macam bentuk ibadah yang dikenal, selama ia mampu merasakan kehangatan iman, selama ia mampu merespon panggilan adzan tanpa keterpaksaan atau pewajiban oleh orang lain, selama akhlaknya baik karena ia merasa nyaman melakukan itu (bukan karena ada lembar yang harus mereka isi) tidaklah menjadi masalah.
Jadi standar kompetensi (kalau mau disebut begitu) bagi saya sederhana saja. Bagaimana responnya soal sholat? Mereka harus bisa sholat karena mereka butuh, bukan karena harus memenuhi isian sekolah, meraka membaca Al-Qur’an karena merasa nikmat membacanya lalu merenungi maknanya dan bukan karena harus memenuhi target tilawah harian.

Pencarian Bersama

Seringkali karena merasa kurang mampu mengajari anak kita tentang agama, kita mendatangkan guru mengaji, atau mengirim mereka ke lembaga lain (pesantren, sekolah Islam). Bagi saya ini aneh, sebab kalau misalnya untuk menjadi orang Islam yang baik kita merasa harus mengirim anak kita ke pesantren, mengapa hal yang sama tidak kita lakukan pada diri kita? Bukankah ini urusan yang sangat besar, menyangkut hidup mati, dan kehidupan kita kelak di akherat?
Atau misalnya untuk menjadi orang Islam yang baik kita harus bisa membaca Al-Qur’an, kenapa yang hal yang sama tidak kita terapkan pada kita. Kenapa kita mendatangkan guru untuk mengajari anak kita, sementara hal yang sama tidak kita lakukan pada diri kita?
Khusus soal agama, menurut saya ia soal pencarian bersama antara kita dan anak kita. Jadi misalnya untuk soal Al-Qur’an, sebelum memutuskan untuk mendatangkan guru, kita sebaiknya menempa diri kita lebih dulu sehingga berada pada level bisa mengajarkan sendiri pada anak kita baik bacaan (tahsin tilawah), hapalan (tahfidz), tafsir, dan perenungan (tadabbur). Kenapa harus demikian? Karena faktor kegagalan pengajaran agama adalah karena tidak adanya konsistensi. Anak diharuskan membaca Al-Qur’an tapi orang tuanya tidak bisa membacanya, anak harus hapal Al-Qur’an tapi orang tuanya bertahun-tahun bahkan juz amma saja tidak hapal. Maka dalam benak anak kita tertanam : kalau nilai-nilai keagamaan itu memang penting, mengapa orang tua saya tidak melakukannya? Kenapa hal-hal itu tidak tercermin dalam keseharian perilaku keagamaan orang tua saya. Kenapa harus saya yang melakukannya?
Bagaimana dengan kehangatan iman? Maka pertanyaan tersebut lebih dulu harus kita tanyakan pada diri kita sendiri? Apakah kita sudah memiliki kehangatan iman? Kalau kita sudah memiliki kehangatan iman, itulah yang harus kita contohkan pada anak kita. Bagaimana respon kita terhadap adzan? Apa yang kita lakukan untuk terus menerus berusaha mengenal Allah?
Anak-anak unschooling akan merespon dengan baik soal nilai-nilai agama selama ia melihat hal serupa dilakukan terutama oleh orang terdekatnya. Kita tak harus mengajarkan apa-apa pada mereka, selama kita melakukan hal-hal tersebut, selama hal itu juga merupakan pencarian kita pribadi, maka insyaallah mereka akan melakukan hal serupa tanpa harus kita suruh-suruh, kita mungkin akan mengajari mereka, namun bukan karena pengharusan dari kita, melainkan karena mereka memintanya.

13 Februari 2010

Apa Manfaatnya Bagiku

Inilah salah satu tools dalam pembelajaran dengan Quantum Learning. Pembelajaran kuantum mengharuskan adanya relevansi pembelajaran dengan manfaat tertentu yang bisa didapat setelah proses pembelajaran. Tentu agar pembelajaran bisa efektif. Maka setiap siswa diminta mengajukan pertanyaan retoris : Apa Manfaatnya Bagiku? Dalam buku Quantum Learning-nya Bobbi De Porter disingkat menjadi AMBAK.

Tentu saja saya setuju dengan prinsip-prinsip yang diajarkan para ahli tersebut. Namun dalam setting sekolah? Nah, inilah yang saya ragukan. Pertanyaan itu bisa kita ajukan pada diri kita : manfaat apa yang bisa saya dapat jika saya belajar persamaan kuadrat, fungsi trigonometri, sistem koloid, penggolongan hewan bertulang belakang dengan tak bertulang belakang, menghitung azimut, sistem tata surya, mengenal kalimat aktif dan pasif ,dan lain sebagainya?
Saya yakin kita akan kesulitan menjawabnya. Sebabnya? karena semua bahan pelajaran itu dijejalkan dengan asumsi bahwa suatu saat kelak kita akan memerlukannya.
Jika kita yang mempelajari bahan pelajaran tidak tahu untuk apa manfaat suatu topik pada mata pelajaran tertentu, maka sebenarnya menurut prinsip pembelajaran kuantum, apa yang kita pelajari itu sebenarnya tidak efektif.
Seandainya pertanyaan yang sama kita ajukan pada para guru kita, maka jawabannya kurang lebih akan sama : para guru pun tidak tahu, dan saya yakin pula para perancang pendidikan kita juga tidak tahu jawabannya.

Jadi pertanyaan retoris : Apa Manfaatnya Bagiku? dalam setting sekolah sebenarnya hanyalah menciptakan AMBAK semu. Dengan demikian akankah mata pelajaran itu menimbulkan kegairahan tertentu saat kita menekuninya?
AMBAK sebenarnya dimaksudkan untuk memunculkan dorongan intrinsik pada diri kita, dorongan yang benar-benar dari dalam diri kita. Sehingga dengan demikian ada kegairahan untuk mempelajarinya dan karenanya pembelajaran akan berlangsung dengan efektif dan terakselerasi.
Masalahnya semua pelajaran di sekolah sangat sulit untuk bisa membangkitkan dorongan intrinsik tersebut, sebabnya sangatlah sederhana : semua bahan pelajaran itu dirancang oleh orang lain yang merasa bahwa semua bahan itu penting bagi kita. Sebuah dorongan ekstrinsik! yang berlawanan dengan dorongan intrinsik tadi. Jadi ya, sebenarnya nggak nyambung.

Saya menemukan kutipan yang menarik dari Gartner tentang kecenderungan sekolah untuk : ” . . . . .emphasis of basic skill : three R’s (Reading, wRiting, aRithmatic), history, geography, science and an additional learning must be erected upon this solid basis : one must crawl before one can walk”. Jadi sangatlah wajar kalau kemudian kita sangat sulit untuk menemukan AMBAK dalam kaitannya dengan pelajaran-pelajaran sekolah, apalagi kita tak menemukan keterkaitan antara apa yang kita pelajari dengan gambaran besarnya.
Bagaimana mengkompromikannya? Maka sedapat mungkin yang kita lakukan adalah mengaitkan suatu topik pada mata pelajaran itu dengan sesuatu di luar sana, di luar gedung sekolah, yang benar-benar dipraktekkan oleh masyarakat. Bukan hal yang mudah memang, apalagi jika kita tidak benar-benar berminat pada suatu topik. Tapi, ya namanya juga kompromi.

Ada nggak jalan lain yang bukan merupakan sebuah kompromi? Ada! Yaitu, berangkat dari : pertama, apa yang sebenarnya menjadi minat kita dan kedua, apa gambaran besarnya. Kita mempelajari sesuatu karena memang minat kecenderungan kita ada pada hal itu, dan karena tahu apa muara dari sesuatu yang kita pelajari.
Yang pertama (belajar karena minat) akan memunculkan kreatifitas yang, masih menurut Gartner dalam lingkungan belajar yang emphasis of creativity adalah lingkungan belajar dimana tersedia : ”An opportunity for individual to invent knowledge on their own significant extend, to transform what has been encountered in the past, and even contribute new ideas
Dan berlawanan dengan apa yang dipraktekkan di sekolah, lingkungan yang mengutamakan emphasis of creativity akan cenderung untuk : “ . . .downplays basic skills, in the belief that there are unnecessary, that they will be acquired anyway, or that subject to focus only after an ambience of creative exploration
Menurut saya sebuah lingkungan belajar dimana mata pelajaran yang kita pelajari ditentukan oleh orang lain yang merasa bahwa semua itu penting bagi kita, sangatlah sulit memunculkan kreatifitas karena memang emphasis of basic skill yang berlawanan dengan emphasis of creativity yang disyaratkan oleh Gartner itu.
Lingkungan seperti ini akan cenderung memunculkan individu yang menunggu seseorang menyendokkan sesuatu ke mulutnya.

Prinsip kedua (apa gambaran besarnya) akan memandu kita sepanjang proses pembelajaran dan menunjukkan muara dari apa yang kita pelajari itu.
Berlawanan dengan apa yang lazim dilakukan sekolah, yang cenderung memulai suatu materi tanpa adanya kontek, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mencari sesuatu masalah atau topik apapun diluar sana dan membawanya untuk dicari detilnya.
Ijinkan saya untuk menunjukkan contoh dari apa yang saya lakukan. Begitu tahu anak saya tertarik pada robot, kami bersama-sama berusaha untuk mencari keterkaitan antara apa yang menjadi minatnya itu dengan praktek sesungguhnya dari praktisi robotika. Kami mencari gambaran besarnya. Dari pencarian itu kami bisa menunjukkan padanya apa sesungguhnya teknologi robotika itu, apa aplikasinya, apa implikasi teknologi ini bagi masa depan kita dan bidang keilmuan apa yang terkait dengannya. Segera setelah itu kami dan dia jadi akrab dengan istilah-istilah dalam dunia robotika ini : apa itu kontrol, apa itu pemrograman, apa itu kinematika, apa itu dinamika, apa itu artificial intelegence, apa itu behaviorial based programming, apa itu navigasi pada robot, juga tentang embedded system, microprocessor, boolean logic, dan seterusnya.
Karena tahu gambaran besarnya ia bisa menentukan kira-kira dalam dunia robotika itu, akan menjadi apa ia? Dan ilmu apa yang harus tekuni?
Setelah berkutat selama setahun dalam robotika, ia lebih tertarik dengan pemrograman robot. Saat ini ia mulai dengan Bahasa C.
Bagi seorang anak yang dulunya mengidap Atention Deficit Dissorder (ADD) dan sekaligus diduga kuat Dyslexia (kesulitan berkaitan dengan pemaknaan huruf), sebenarnya bukan hal mudah bagi anak saya untuk mempelajari Bahasa C, tetapi karena ia tahu keterkaitan antara apa yang ia pelajari (AMBAK) dengan the real world outside there tak ada keterpaksaan dan kesulitan baginya. Bagi kita yang tak familiar dengan bahasa pemrograman, tulisan kode-kode ini jauh dari menyenangkan dan jauh dari bisa dibaca :

int move_time, turn_time;

task main ( )
{
while (true)
{
move_time = Random (600);
turn_time = Random (400);
OnFwd (OUT_AC, 75);
Wait(move_time);
OnRev (OUT_A,75);
Wait (turn_time);

}
}


Dan bagaimana pula jika yang melakukannya anak umur 11 tahun pengidap Dyslexia?

Menariknya, ilmu-ilmu dasar yang biasanya diajarkan di sekolah muncul bersamaan dengan saat kita berinteraksi dengan robot.
Sebagai contoh saat anak kami belajar tentang navigasi robot, ia kesulitan membuat robotnya bergerak membentuk pola segitiga. Dari masalah inilah maka detil ia peroleh : bahwa sekadar memprogram robot agar bergerak dari satu titik ketitik yang lain secara tepat ia harus paham terlebih dahulu tentang teori lingkaran dan hubungannya dengan jarak, bahwa ia harus memperlakukan roda sebagai sebuah lingkaran . . . . . . bahwa posisi setiap titik bisa dinyatakan dalam bentuk Koordinat Cartesian . . . . bahwa memutar robotnya membentuk sudut tertentu harus terlebih dahulu memahami rumus-rumus trigonometri . . . juga Pithagoras . . . . .
Bahwa ternyata ia harus memodelkan pergerakan roda robotnya sebagai sebuah Persamaan Linier . . . . .bahwa ia masih harus menguji persamaan matematisnya itu secara empirik . . . ia berkenalan sedikit dengan statistika.
Dan semua itu dilakukan dengan penuh minat, karena semua ilmu itu make sense, ia pelajari karena ia ingin permasalahan dalam pergerakan robotnya itu terpecahkan . . .
Masih banyak lagi topik yang menunggu untuk dipelajari saat interaksi dengan robot tersebut : matrik, persamaan dan pertidaksamaan, Persamaan Laplace, Persamaan Lagrange, Jacobian, dan lain sebagainya . . . .
Semua topik tersebut akan terasa mudah, karena muara dari susah-payah mempelajari sesuatu telah diketahui, dan kita telah bersedia untuk membayar semua konsekuensinya (###)

23 Januari 2010

The Next Scientist?

Sebuah surat kabar memampangkan foto-foto para pemenang olimpiade fisika, matematika, dll . . . untuk menunjukkan pencapaian pendidikan kita dalam bidang ini di tahun 2009. Bangga juga melihat prestasi para pelajar itu, namun yang lebih menarik adalah tulisan dibawah foto-foto tersebut : the next scientist . . . . .
Inilah salah satu dari serangkaian mitos-mitos pendidikan yang bisa menyesatkan. Benarkah ilmuwan dibentuk dari ketrampilan menjawab soal-soal olimpiade? Sejauh yang saya tahu salah satu ketrampilan yang harus dimiliki ilmuwan adalah mengajukan pertanyaan dan berusaha menjawabnya sendiri. Dan bukannya ketrampilan menjawab pertanyaan orang lain.
Itulah yang dilakukan Newton ketika melihat apel yang jatuh, dia mengajukan pertanyaan, mengapa? Jawaban atas pertanyaan yang diajukannya sendiri melahirkan Hukum Newton yang terkenal itu.
Itu pula yang dilakukan oleh Darwin ketika melihat hewan-hewan di Kepulauan Galapagos. Pencarian atas jawaban dari pertanyaan yang memenuhi kepalanya melahirkan Teori Evolusi.

Tak satupun dari para ilmuwan itu dikenal karena kemampuan mereka menyelesaikan soal-soal fisika, biologi, kimia, matematika, atau yang lainnya . . . . . Tak juga para ilmuwan diseluruh dunia dibentuk dari serangkaian drill menjawab soal-soal latihan. . . . .
Karena itulah saya berpendapat bahwa pernyataan the next scientist itu misleading.
Kalau memang benar inovasi bisa dilahirkan dari proses-proses itu, maka kenapa pelajar-pelajar dari negara-negara yang maju dari segi sains tidak pernah mendominasi ajang olimpiade-olimpiade itu?
Kenapa para pemenang nobel atau para penemu yang jenius tidak lahir dari negara yang pelajarnya kerap menjuarai olimpiade sains?
Indonesia juga dikenal dengan kurikulum yang relatif berat untuk level yang sama dibanding misalnya, Amerika? Tapi kita tahu bersama bahwa Amerika yang kurikulumnya tidak ketat itu (dibanding kita) ternyata banyak melahirkan inovasi teknologi.

Jadi inilah mitos itu. Bahwa generasi ilmuwan kita akan diproduksi dari kemampuan kita untuk melatih anak-anak itu untuk menjawab pertanyaan kita. Karena percaya mitos ini kita jadi abai terhadap cara-cara pengukur pemahaman. Howard Gartner sang pakar multiple intelegencies itu mengungkapkan bahwa untuk menguji pemahaman : “ . . . nor repetition of information nor performance but application of concept and principles to question or problem that are newly posed
Padahal seharusnya kita berusaha mendeteksi pemahaman mereka akan sesuatu misalnya dengan apa yang diusulkan oleh Gartner : “That one who understands can exhibit at least some faced of knowledge and performance associated with adult master practitioner in that domain.”
Gartner menunjukkan beberapa penelitian yang mengungkapkan bahwa para pelajar Fisika ternyata tidak mempunyai pemahaman Fisika seperti yang seharusnya dimiliki oleh orang yang mengerti Fisika. Juga tentang pelajaran sejarah yang ternyata tidak menghasilkan pelajar yang memiliki cara berpikir ala sejarahwan.

Saya jadi teringat ucapan Feynman sang pemenang nobel Fisika itu, bahwa Fisika itu seharusnya dipahami dengan membentuk mental model dalam pikiran kita kemudian baru diikuti oleh model matematisnya. Sementara marilah kita berkaca saat kita mempelajari Fisika dahulu, apakah kita memahami Fisika seperti cara-cara ilmuwan Fisika?

Bagaimanakah seharusnya ilmu diajarkan? Seperti apakah produk belajar anak-anak kita? Saya kembali menampilkan dua kontras yang saya kutip dari Gartner dalam buku Unschooled Mind.
Pertama, starting very young to memory list of fact, arithmetict table, geometric proft . . . . . . associated with a successfull quiz show contestant . . . . .
dan dengan Kedua, a rich understanding of the concept and principles underlying bodies of knowledge . . .persons who understand deeply has capacity to explore the world in a numbers of way. . . and who understand concept and principles based on his own exploration and reflection . . .finally reconsiliace the concept and principles that may evolved. . .

Sejauh para pemenang olimpiade-olimpiade tersebut dibentuk dengan prinsip-prinsip diatas, maka tidak ada keraguan. Kita akan memiliki ilmuwan mumpuni di masa depan, tapi kalau tidak . . . sesungguhnya kita hanya menghasilkan kontestan yang memenangi semacam lomba kuis belaka . . (###)

28 November 2009

Pesawat Ini Untuk Ayah!

Hari-hari menjelang Idul Adha ini mengingatkan saya akan peristiwa kurang lebih setahun yang lalu yang terus saya kenang.
Saat itu anak-anak saya sedang keranjingan mainan pesawat terbang yang dapat terbang beneran dengan putaran baling-baling yang digerakkan oleh piston yang mengambil sumber tenaganya dari udara yang dimampatkan.
Anak-anak membeli mainan itu dari hasil uang yang mereka peroleh saat Lebaran sebelumnya.

Bukan mainan itu yang mengesankan saya, melainkan peristiwa yang mengikutinya kemudian. Saat itu saya sedang bertugas di luar kota dan biasa pulang ke rumah tiap 2-3 minggu sekali. Istri sayalah yang menceritakan tentang kehebohan anak-anak yang sedang main pesawat tersebut.
Namun suatu malam istri saya itu mengabarkan sesuatu yang ia minta untuk dirahasiakan dari anak tertua saya. Rupanya anak saya itu sedang menyiapkan sebuah kejutan saat saya pulang nanti.

Ternyata istri saya tak tahan untuk tak membocorkan rahasia itu karena peristiwa itu begitu menggetarkan. Dengan uangnya yang tak seberapa dari hasil kerjanya mengurus kucing kami, anak saya mencoba untuk membelikan sebuah pesawat terbang mainan untuk saya! Ya, untuk saya!
Pesawat terbang itu lebih besar dan tentu saja lebih mahal dari miliknya sendiri. Rupanya saat bermain pesawat terbang itu, anak saya berasumsi bahwa saya pasti akan menyukainya. Karena itulah dia ingin saya memilikinya juga.
Dan karena uang hasil kerjanya tidak cukup untuk membelikan pesawat sampai kedatangan saya, anak saya meminta kesediaan ibunya untuk menambal kekurangannya.

Peristiwa itu amat menggetarkan saya. Mata saya memerah dan air mata saya mengambang di pelupuk mata saya. Bukan hadiah itu yang semata-mata menggetarkan saya, melainkan peristiwa yang terjadi beberapa tahun sebelumnya saat anak saya yang tertua itu berusia 2 tahun (setahun lalu usianya 10 tahun)
Dialah korban dari ketidaksiapan saya menjadi seorang ayah. Saya kerap bertindak kasar dan bahkan memukulnya! Emosi saya gampang meledak hanya karena ulah seorang anak berumur 2 tahun. Walaupun saya kerap menyesali perbuatan itu pada malam hari saat memandang wajah tanpa dosa anak saya yang sedang tertidur, butuh waktu lama untuk bisa berdamai dengan ulahnya. Kerap pada malam-malam itu saya menangis sambil memandangi anak saya yang sedang tidur itu : ”Mengapa harus engkau yang dituntut untuk memahami ayah, dan bukankah ayahmu yang lebih tua inilah yang seharusnya memahamimu? Mengapa jadi terbalik?”

Setelah beberapa saat kemudian saya ”telah siap menjadi seorang ayah” peristiwa itu kerap saya sesali. Saya berdoa agar anak saya itu tidak ”dendam” akibat perlakuan kasar ayahnya dan berharap agar perilaku kasar itu tidak berdampak buruk bagi perkembangan mentalnya.
Untunglah dengan berlalunya waktu, anak saya ”mengkonfirmasikan” bahwa tidak ada efek buruk terhadap perkembangan mentalnya. Salah satunya peristiwa hadiah pesawat mainan tersebut.

Cinta anak saya demikian besarnya, sehingga dia mau memberikan semua (bahkan tak tersisa) dari sedikit yang dimilikinya. Saya pikir inilah sifat asli dari seorang anak yang merupakan pembawaan lahir yang diwariskan dari Tuhannya.
Pertanyaannya, bagaimana kita sebagai orang tuanya menjaga keadaan ”seperti aslinya” itu terus bertahan sampai mereka, anak-anak kita itu, menjadi dewasa?
Anak-anak itu telah mendemonstrasikan pada kita tentang cinta yang tulus, pengorbanan, dan ketidakterikatan pada materi. Apakah sifat-sifat mulia itu hanya ekslusif bagi anak-anak seusia mereka?

Bagi saya sifat-sifat mulia tersebut seharusnya bisa bertahan terus. Dan tugas kitalah untuk mengupayakannya. Saya pikir ini tugas yang berat, karena kita sendiri telah ”tercemar” oleh sifat-sifat buruk. Namun tuntutan untuk menjadikan anak-anak kita bersifat mulia, memaksa kita untuk berperilaku mulia terlebih dahulu. Dan menariknya hubungan kita dan anak kita akan menjadi hubungan saling belajar dimana suatu saat kitalah yang menjadi guru bagi mereka, namun saat yang lain anak kitalah yang menjadi guru bagi kita.
Dan saya merasakannya sekarang, saya telah menjadi orang yang lebih baik karena belajar dari kesalahan yang saya perbuat pada anak-anak saya, dan dari perilaku genuine anak-anak saya.(###)

14 Juli 2009

Belajar Dewasa Dengan The Sims

Tidak ada angin tidak ada hujan, suatu saat tiba-tiba saja Tauhid (11 tahun), anak tertua saya bertanya begini :
“Bagaimana hubungan Ayah dengan Bos?”
Maksudmu?”
”Iya, apa hubungan Ayah baik-baik saja. Melakukan pendekatan, nggak?”
Bingung, dengan arah pertanyaannya, saya berusaha mencari tahu kenapa dia bertanya seperti itu. Rupanya dia sedang memainkan game The Sims 3 yang baru saya belikan sebelumnya.

Tertarik dengan pertanyaannya, saya berupaya mengeksplorasi lebih jauh tentang permainan The Sims 3-nya tersebut.
Rupanya Tauhid sedang memainkan peran sebagai polisi dalam game tersebut. Dalam game tersebut tokoh yang diperankan Tauhid berkarir sebagai polisi, mempunyai istri yang pintar masak sekaligus penulis buku. Oh, ya mereka juga punya bayi berumur kurang dari 1 tahun.

***

Anak-anak by nature senang bermain peran. Kita bisa amati bagaimana anak-anak suka berkhayal menjadi dokter, tentara, suka membangun rumah-rumahan dari selimut dan bantal, sebagai sopir dengan memakai kardus bekas sebagai mobil . . . . . .
Bahkan kita, orang dewasa ini juga sebenarnya juga tengah bermain peran. Di rumah kita berperan sebagai ayah atau ibu bagi anak-anak, di kantor kita berperan sebagai insinyur, guru, pialang saham, pemilik bisnis, dan seterusnya . . . . . .
Dengan bermain peran sebenarnya anak-anak sedang mengekplorasi dunia di sekitarnya, mencari kemungkinan-kemungkinan baru, dan menjajagi dunia orang dewasa.

Bayangkan sekarang, kalau anak-anak bisa dengan akurat mengetahui ”dunia dewasa” dan mengkomunikasikan ide-idenya dengan kita? Dan itulah yang terjadi dengan pertanyaan anak saya itu, ia mengkomunikasikan apa yang ia tahu tentang dunia orang dewasa dan mengkonfirmasikan dengan pengalaman orang tuanya.
Dengan premis bahwa anak-anak bersekolah untuk mempersiapkan diri menjadi orang dewasa, game The Sims menawarkan sesuatu yang sulit untuk bisa ditandingi oleh sekolah! The Sims memberikan island of expertise yang akan mengantarkan anak kita pada dialog yang mencerahkan.

Dengan bermain sebagai polisi dalam The Sims, Tauhid tahu apa kewajiban orang dewasa dalam kehidupan rumah tangga : mencari nafkah, mengurus istri dan anak, bersosialisasi dengan tetangga keluarga Sims yang lain, bagaimana meningkatkan karir. Lewat permainan sebagai polisi tersebut (role), Tauhid harus mengikuti aturan (rule) tertentu agar karirnya sebagai polisi dapat meningkat. Sang polisi harus berlatih olah raga agar fisiknya prima, ia juga harus berlatih teknik-teknik interogasi (Tauhid bahkan menceritakan pada saya berbagai macam teknik interogasi), bagaimana caranya menangkap penjahat dengan teknik-teknik inteligen (lihat apa yang ada di tong sampahnya, selidiki teman-temannya, dll), sampai bagaimana membina karir dengan membina hubungan baik dengan atasan! Tauhid bahkan menceritakan pada saya bahwa sebelum melakukan lobbying kita harus memiliki kemampuan atau kapasitas sebagai polisi yang baik terlebih dahulu. Lobbying dilakukan sebagai pelengkap. Jadi, masih menurut Tauhid, tidak bisa tanpa punya kapasitas atau kemampuan yang baik kita lobby atasan kita. Dia akan kurang suka atau tak memperhatikan kita. Anda bayangkan semua itu telah diketahui anak berumur 11 tahun!
Oh, ya masih ada cerita tentang istri sang polisi. Sang istri mempunyai kemampuan sebagai juru masak yang hebat. Untuk mengembangkan karirnya ia berlatih menulis sehingga mampu menghasilkan buku yang best seller. Tauhid berseru pada saya : ”Ayah, ternyata menjadi penulis itu bisa menghasilkan uang yang banyak!”

***
Role and rule, merupakan salah satu unsur dalam game. Dan seperti yang sudah dijelaskan dimuka, bahwa sesungguhnya dunia orang dewasa merupakan dunia role (peran) dengan sejumlah rule (aturan), maka lewat game anak-anak mampu menjelajahi dunia orang dewasa lebih dini tanpa harus benar-benar mengalaminya. Mereka akan mengenal apa yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya, bagaimana belajar disiplin, bagaimana menanggung konsekuensi atas tiap putusan yang dibuat.
Semua ini dimungkinkan karena dalam The Sims, pemain harus mengontrol karakter/sosok yang ia mainkan. Kapan ia makan, apa yang dimakan, bagaimana kalau makannya junk food melulu, kapan ia tidur, kapan mandi, berlatih olah raga, kapan menikmati hiburan, kapan membangun relasi, kapan bekerja, kapan menikah dan punya anak, bagaimana menarik perhatian seorang gadis untuk dijadikan istri, apa yang harus ia lakukan untuk meningkatkan karir dan hidupnya, dll-nya. Bahkan peran apa yang akan dimainkan juga bisa dipilih : polisi, atlet, pebisnis, penulis, diplomat, politikus. . . . . . . . Pokoknya The Sims memang tentang bagaimana hidup, hanya dalam bentuk simulasi.

Kekuatan inilah yang tidak mungkin disediakan oleh sekolah. Dalam The Sims kita bisa meminta anak-anak untuk menjelaskan latar belakang tiap keputusan yang dibuatnya (melalui tokoh yang dimainkannya). Kita juga bisa memberitahu apa yang terjadi dalam game yang tidak terjadi dalam dunia nyata. Mungkin pula bisa dijelaskan pada mereka efek keputusan yang mereka buat yang mempunyai efek berbeda antara dunia game dengan dunia nyata.
The Sims memfasilitasi kita untuk memperbincangkan sesuatu yang benar-benar bernilai. Kita punya sesuatu untuk didiskusikan dan membuat interaksi kita jauh lebih bermakna.

Bagaimana dengan efek buruk? Bagaimana kalau mereka belum pantas tahu sesuatu dalam umur mereka? (katakanlah tentang seks). Saya memilih untuk memaparkan apa adanya daripada memproteksi mereka dalam sesuatu yang kita anggap negatif. Sebab memang itulah kenyataan dunia disekitar kita.
Dalam The Sims ada pergaulan yang menurut kita terlalu bebas, ciuman, pelukan, making love tanpa nikah. Tapi bukankah itu memang ada dalam masyarakat kita? Saya mengambil posisi untuk menjelaskan hal itu dari sudut pandang nilai-nilai atau agama yang kita yakini. Saya bisa katakan pada mereka, okey hal itu tak sesuai dengan agama kita. Seharusnya . . . bla . . .bla . . .bla. Akan saya jelaskan pula, bahwa ada orang-orang yang punya nilai berbeda dibanding kita. Dan itu nyata.
Dengan demikian, anak kita tak akan terkaget-kaget melihat dunia nyata yang selama ini disembunyikan dari mereka. Bukankah mereka lebih baik tahu sesuatu dari kita dibandingkan tahu dari teman sebaya mereka?
Dalam game yang lain yang cukup vulgar, Grand Theft Auto, Tauhid bertanya pada istri saya apa itu wanita yang berpakaian ”tidak seperti yang biasa aku lihat”. Istri saya katakan padanya bahwa wanita seperti itu (dalam game tsb) adalah pelacur. Walaupun tidak semua wanita yang berpakaian macam itu (seronok) berarti pelacur.

Terakhir, dengan bermain The Sims, kemampuan Bahasa Inggris anak saya meningkat. Tentu saja, karena semua info dan perintah tersaji dalam Bahasa Inggris. Sedangkan saya dan istri saya tidak pernah mendampingi dia dalam bermain. Maka mau tak mau ia harus memahami apa yang tertulis tersebut (kalau tidak maka ia tak akan dapat memainkan game tersebut). Selama ia terus memainkan tokoh dalam The Sims sampai pada tahapan tertinggi berarti ia memahami Bahasa Inggris dalam game tersebut.
Menurut saya inilah cara alami untuk belajar bahasa. Inilah cara bayi belajar bahasa, bukan? Lain dengan anak yang tahu kosakata Bahasa Inggris tanpa tahu kapan digunakan. Kerap kita lihat anak-anak usia SD main tebak-tebakan kata dalam Bahasa Inggris. Apa Bahasa Inggrisnya gajah? Bahasa Inggrisnya kuda? dan seterusnya . . . .
Lagi pula Anda nggak pernah main tebak-tebakan kata dalam Bahasa Jawa dengan bayi Anda bukan? (###)

12 Juli 2009

Open Source Dalam Pendidikan

Seperti halnya dunia komputer yang mengenal open source, dunia pendidikan juga perlu di-open source-kan (terutama dengan kecenderungan sekolah-sekolah kita yang makin mahal dan berorientasi bisnis). Saat ini open source dalam dunia komputer berkembang sangat pesat, kita mengenal Linux sebagai alternatif dari Windows, Open Office sebagai alternatif MS Word, Gimp sebagai ganti Photoshop, Blender sebagai versi gratisan 3 DS Max. Semangat pegiat open source diantaranya adalah untuk membebaskan ketergantungan dari perangkat lunak berbayar, dikembangkan oleh dan untuk komunitas. Sekalipun gratisan open source ini tidak berarti murahan.
Nah, open source dalam pendidikan dengan redaksi yang berbeda sebenarnya telah digagas oleh Ivan Illich dalam Deschooling Society pada medio tahun 70-an. Illich meramalkan bahwa pada suatu saat masyarakat tidak memerlukan sekolah, ini karena masyarakat sudah berkembang sedemikian rupa dimana informasi apapun yang dibutuhkan oleh generasi muda tersedia secara luas dan dapat diakses dengan mudah.

Illich secara radikal menganjurkan bahwa sekolah sudah seharusnya dihapuskan. Mengapa? Sekolah telah membuat masyarakat sangat tergantung padanya sehingga percaya bahwa satu-satunya cara untuk menjadi terdidik harus melalui sekolah. Akibatnya orang tua, masyarakat, dan lembaga-lembaga sosial yang lainnya mengabaikan sisi pendidikan yang seharusnya melekat padanya. Sekolah juga menunjukkan sisi kontradiktifnya : semakin tinggi anggaran yang disediakan makin besar sisi destruktifnya. Berapapun dana yang disediakan tidak akan cukup untuk membuat warga negara yang miskin menjadi cukup terdidik. Pendidikan memang perlu dan sudah seharusnya tetapi tidak melulu harus lewat sekolah. Illich menganjurkan pendidikan berbasis masyarakat (community based education).

Apa yang diramalkan oleh Illich sudah menjadi kenyataan saat ini terutama tentang bahwa informasi sudah sedemikian mudahnya untuk diakses oleh siapa saja dan murah. Internet telah memungkinkan segalanya, sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya. Kini kita tak tergantung lagi pada sekolah sebagai sarana penyedia pendidikan, ada open source di luar sana !

Era Baru Pendidikan Telah Tiba

Saya sangat percaya bahwa di masa depan orang akan lebih menghargai kemampuan, dan kapasitas seseorang daripada selembar ijazah yang ditenteng kemana-mana. Dan itu menjadi sangat mungkin bila kita mau menjadi entrepreneur. Perekonomian yang sehat setidaknya harus didukung oleh adanya pengusaha sebanyak 2% dari jumlah penduduk. Rata-rata negara maju mempunyai komposisi seputar 2% pengusaha dari total penduduknya. Kutub ekstrim adalah Singapura dengan 7% sementara kutub ekstrim lainnya yang menyedihkan adalah Indonesia dengan 0,198% dari total penduduk!
Inilah menurut saya peluang kerja yang terbesar! Dan inilah peluang besar untuk memajukan negara. Dan menariknya kita tak butuh sekolah untuk menjadi pengusaha. Ada open source di sana!
Saya telah melakukan studi kecil-kecilan dalam rangka menemukan sumber bagi self directed learning/unschooling anak saya. Saya menemukan bahwa bahkan untuk menjadi seorang programmer pun kita tidak perlu sekolah bahkan kuliah. Bukalah situs Microsoft misalnya. Kita akan temukan suatu program gratisan yang akan mengantarkan siapapun untuk menjadi seorang programmer. Sedikit biaya yang sepadan mungkin untuk mendapatkan sertifikasi Microsoft misalnya untuk menjadi seorang Microsoft Certified Developer.

Atau ingin membuat game bagi XBOX 360? Mungkin sekali dan semua itu gratis. Satu-satunya biaya mungkin keanggotaan komunitas XNA Creator. Namun untuk itu kita akan mendapatkan layanan dukungan penuh komunitas yang pada akhirnya memungkinkan kita menjual game untuk XBOX 360 di pasar international.
Ingin menjadi desainer grafis? Kita bisa masuk ke situs Blender yang menyediakan program gratisan animasi atau modeling 3D lengkap dengan dukungan komunitas untuk meningkatkan kemampuan kita.

Itu baru sebagian kecil kemungkinan menarik. Dan inilah sebenarnya inti dari unschooling, memaparkan anak-anak pada realitas yang sedang berkembang di masyarakat. Bayangkan kemungkinan menariknya. Anak-anak bahkan tak perlu menunggu lulus sekolah untuk mulai mewujudkan apa yang menjadi minat dan hasratnya. Di tengah anak-anak sebaya sedang sibuk mempelajari sesuatu yang sangat sedikit kaitannya dengan hidup mereka kelak (selain ijazah bagi yang percaya), anak-anak unschooling membangun portofolio mereka sendiri. Saat anak-anak usia SMA masuk ke perguruan tinggi dengan memilih jurusan yang mereka tidak benar-benar tahu apa isinya, anak-anak unschooling (kalau mereka mau) masuk ke perguruan tinggi dengan tujuan menutup celah ilmu pengetahuan yang belum mereka kuasai atau untuk memperkaya portofolio mereka.
Saya kok yakin akan tiba masanya dimana universitas akan menghargai portofolio seseorang dibanding sekadar ijazah. Bukankah sangat menarik misalnya membayangkan anak-anak unschooling yang akan masuk ke jurusan ilmu komputer sambil membawa karya-karya pengembangan software berbasis bahasa C#? Atau masuk ke jurusan elektro sambil membawa hasil karya robotika yang menunjukkan kemampuannya dalam pemrograman mikrokomputer berbasis bahasa C? Sementara rekan sebaya mereka hanya menunjukkan selembar ijazah?
Atau mengapa tidak terjun langsung dalam bisnis? Dikala teman-teman sebaya menghabiskan waktu untuk kuliah, anak-anak unschooling itu bisa memulai bisnisnya. Atau dengan ketrampilan yang mereka punyai (lewat portofolio mereka), mereka bisa magang pada sebuah perusahaan dengan dibayar atau tanpa dibayar sebagai penukar pembelajaran mereka di perusahaan tersebut.
Kemungkinan akan sangat terbuka luas kalau kita mau berpikir bahwa sekolah bukan satu-satunya penyedia pendidikan dan bukan satu-satunya jalan bagi pondasi karir kita.(###)

09 Juli 2009

Are You Smarter Than 5th Grader? If No, Never Mind!

Inilah acara TV yang cukup populer yang bisa digunakan sebagai alat untuk menunjukkan apa yang make sense in the real world. Dalam acara ini ditampilkan dua kontestan yang cukup “bertolak belakang”. Yang satu adalah anak kelas 5 SD, sementara lawannya biasanya orang dewasa yang cukup sukses di bidangnya atau figur terkenal lainnya. Bisa seorang profesional, olahragawan, lulusan perguruan tinggi dengan IP tinggi, dan lain sebagainya.
Para kontestan diberi pertanyaan seputar materi-materi pelajaran atau pengetahuan yang biasanya diberikan pada anak kelas 5 SD. Bagian paling menarik tentu menyaksikan bagaimana orang dewasa itu kerap kalah oleh anak-anak SD tersebut. Kalau orang dewasa yang menang tentu tidak menarik lagi, sebab sudah lazim orang dewasa dianggap lebih tahu soal-soal anak SD, karena toh mereka pernah mengalami menjadi anak kelas 5 SD.

Seperti yang sudah saya sebut diatas, acara kuis ini justru menunjukkan paradoks tertentu. Paradoks inilah yang bisa disampaikan pada anak-anak unschooling, apa sih yang sebenarnya benar-benar penting untuk diketahui dalam dunia nyata, dunia di luar sekolahan. Orang-orang dewasa yang sukses itu kerap kalah dengan anak kelas 5 SD. Tentu saja! Sebab kesuksesan mereka tidak terkait dengan apa yang mereka pelajari di kelas 5 SD. Dengan kata lain, tanpa harus menguasai semua materi pelajaran kelas 5 SD (atau materi pelajaran sekolah dari SD – SMU) terbukti orang bisa sukses. Pelajaran sekolah juga terbukti tidak menetap lama dalam memori mereka. Tidak hapal jawaban-jawaban tersebut juga tidak apa-apa. Orang dewasa itu juga baik-baik saja. Nothing happen!

Kuis itu dengan menyakinkan menunjukkan bahwa apa yang dipelajari di sekolah memang tidak relevan dengan apa yang sedang diperbincangkan di masyarakat, dengan apa yang sedang dilakukan masyarakat, seperti yang sudah lama dipermasalahkan oleh psikolog Howard Gartner. Sebab kalau memang materi pelajaran tersebut make sense tentu nyambung dengan apa yang sedang terjadi di luar tembok sekolah.
Coba perhatikan pertanyaan-pertanyaan kuis tadi (yang serupa dengan pertanyaan di sekolah) :

Siapa ilmuwan Prancis yang menemukan Radium sekaligus meraih Nobel?
Berapakah kelipatan persekutuan terkecil dari 12?
Apa beda uang kartal dengan uang giral?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mengandalkan hapalan (rote memorization) dengan jenis jawaban yang bisa benar atau salah. Tidak ada hubungannya apakah kita tahu jawaban pertanyaan-pertanyaan itu dengan apa yang sesungguhnya terjadi di masyarakat, apa yang sesungguhnya dianggap penting dalam masyarakat, atau apakah jawaban pertanyaan itu menggambarkan pemahaman akan sesuatu. Pertanyaannya : apa sesungguhnya yang dipelajari dari mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu? Apa yang bisa dilakukan?
Jadi saat anak laki-laki saya menonton acara itu bersama saya, saya temukan senjata itu : ”Lihat, Nak. Orang dewasa yang IP-nya 3.5 itu tidak tahu jawaban pertanyaan itu. Jadi kamu (seusia kelas 5 SD) pun tidak harus tahu jawabannya. Tapi kau lihat, orang dewasa itu sukses. Kamu hanya perlu tahu apa yang diketahui oleh orang dewasa itu

Saya sampaikan padanya paradoks yang lain. Tentang ujian yang harus dilalui seorang murid. Seorang murid harus bisa menjawab sekian banyak soal dari sekian mata pelajaran. Paradoksnya : bahkan sang guru pun tidak akan mampu menjawab sekian soal dari sekian banyak mata pelajaran . Guru Bahasa Indonesia (yang tentu sudah mengalami belajar matematika) hampir bisa dipastikan tidak bisa menjawab soal matematika yang diujikan! Dan begitu pula sebaliknya!
Jadi saya katakan padanya bahwa untuk menjadi dewasa seseorang harus tahu segala hal atau harus melalui ritual sekolah adalah mitos belaka!
Beberapa sub bab dari mata pelajaran di sekolah mungkin memang benar-benar berguna, tapi tidak semuanya benar-benar kita gunakan kelak.

Alih-alih saya mendorong anak saya untuk tahu segala hal tentang tetek bengek materi-materi sekolahan, saya mencoba untuk mengenalkan apa sih yang diperbincangkan oleh orang dewasa dalam profesi mereka masing-masing? Apa yang menjadi concern mereka? Pengetahuan apa yang harus diketahui untuk terlibat perbincangan dengan orang dewasa?
Dan ini bisa membawa kita pada perbincangan yang mencerahkan dengan anak kita.

Saat merancang mobile robot yang mampu mencari bola dan kemudian hanya memukul bola yang berwarna merah, anak saya (seusia kelas 5 SD) harus melakukan pemrograman pada mikrokomputer si robot. Rupanya perilaku si robot tidak seperti yang diharapkan dan inilah pertanyaannya :
”Ayah, dia memukul semua bola biru dan merah dan bukan yang merah saja!”
Apa sensor cahayanya sudah kamu kalibrasi?”
”Sudah! datanya sudah saya logging”
Coba lihat programnya. Buka logic block-nya
”Hmm . . . disini . . . tertulis or seharusnya if, pantesan semua bola dipukulnya”
Bisa Anda bayangkan? Perbincangan tersebut merujuk pada pekerjaan seorang programmer. Dan hal seperti itulah yang memang make sense in the real world. Itulah kosakata seorang programmer.
Dari contoh diatas pengetahuan tentang logika digunakan untuk menyelesaikan persoalan pemrograman behavior robot. Saya tidak tahu apa yang bisa dilakukan dengan mengetahui kelipatan persekutuan terkecil dari 12 seperti contoh pertanyaan dalam kuis diatas

Perbincangan seperti diataslah yang dimaksud oleh Crowley sebagai islands of expertise, sesuatu yang menarik minat anak-anak dan karenanya memicu untuk belajar lebih jauh. Islands of expertise selalu terbentuk ketika anak-anak berinteraksi dengan orang tua dan orang dewasa lain yang berpengetahuan.
Jadi, permainan tebak-tebakan macam kuis Are You Smarter tadi sama sekali tidak memicu apa-apa. Tidak akan membawa anak-anak untuk mengetahui lebih jauh tentang topik bersangkutan. Dan ironisnya, permainan tebak-tebakan ini dalam berbagai bentuknya dilestarikan dan diagungkan oleh sistem pendidikan nasional kita. Dan saat anak saya ditanya soal-soal sekolahan oleh tetangga sebelah rumah , ia menjawab : Kenapa aku harus menjawab pertanyaan bodoh itu? (###)

20 Juni 2009

Belajar Apa Dari Game?

Yang dimaksud dengan game disini bukanlah yang diasosiasikan sebagai educational games pada umumnya yang memang nyata-nyata dianggap mengandung unsur-unsur pendidikan, melainkan games yang secara umum dianggap hanya mengandung unsur hiburan semata. Yang oleh orang tua pada umumnya cenderung dibatasi atau bahkan dilarang. Yang orang tua umumnya tak menghendaki anak-anaknya kecanduan. Ya, games semacam The Sims, The Sims City, Grand Theft Auto, Roller Coaster Tycoon, Tokyo Drift, Need for Speed dan lain sebagainya. Tak seperti yang kita bayangkan ternyata game-game itu, dengan cara-cara tertentu, bisa menjadi sarana pembelajaran yang bagus.

Mengapa kita memakai game semacam itu, dan bukannya game yang nyata-nyata mengandung unsur pendidikan? Masalahnya hanyalah mana yang lebih menarik. Educational games pada umumnya kalah menarik dibanding game-game tersebut. Kalau educational games mampu menarik minat anak-anak kita tidak masalah, tetapi kalau anak-anak ternyata lebih memilih game-game yang saya sebut diatas, mungkin bisa jadi masalah bagi sebagian orang tua, terutama bagi orang tua yang anaknya bersekolah.

Howard Gartner dalam Unschooling Mind, menyatakan bahwa kesulitan terbesar yang dihadapi oleh sekolah adalah menarik minat anak-anak akan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Oleh karena pelajaran di sekolah menurut Gartner tidak sepenuhnya mencerminkan atau jauh dari realitas keseharian anak-anak, maka sangat sulit bagi anak-anak merasakan pentingnya mereka harus mempelajari pelajaran sekolah. Pengaruh di luar sekolah sangatlah besar dan jauh lebih menarik dari apa yang diajarkan di sekolah. Maka upaya untuk membendung pengaruh yang datang dari luar sekolah, merupakan upaya berat dan makin lama akan membebani sekolah. Dan salah satu pengaruh besar adalah game.

Adalah David Williamson Shaffer lewat bukunya How Computer Games Help Children Learn yang mengungkap potensi besar game untuk pembelajaran. Buku Shaffer bukanlah buku tentang game, melainkan buku tentang pembelajaran. Sebelumnya James Paul Gee juga mengungkap kekuatan game untuk keperluan pembelajaran lewat bukunya What Video Games Have to Teach Us About Learning and Literacies. Kedua ahli tersebut terutama Shaffer, mengungkapkan bahwa pembelajaran bermakna akan sangat efektif bila dibuat dalam bentuk game, terutama untuk pembelajaran abad 21. Pembelajaran konvensional sangatlah tidak memadai, seperti diungkap Gartner, terutama karena kecenderungan sekolah-sekolah pada umumnya menggunakan pendekatan subject matter, misalnya : Matematika, Biologi, Kimia, Sejarah, dan lain sebagainya.

Pendekatan subject matter dipandang tidak memadai karena menafikan keterkaitan antar berbagai disiplin, sementara masalah-masalah di masa depan yang komplek mustahil didekati dengan satu disiplin saja. Lebih dari itu, karena pendekatan subject matter tidak terkait dengan masalah-masalah dalam keseharian kita, ia hanya cocok untuk setting sekolahan saja dan tidak applicable untuk kontek keseharian kita. Gartner mengungkapkan penelitian dari berbagai ahli bahwa sebagian besar siswa sekolah gagal menyelesaikan soal-soal yang sedikit saja dimodifikasi dari soal-soal yang selama ini diujikan di sekolah. Kesimpulannya mereka mampu menyelesaikan soal-soal hanya jika dikaitkan dengan kondisi persekolahan. Soal-soal disekolah hanya dirancang untuk dan demi kelanjutan sistem persekolahan itu sendiri secara berjenjang mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Itu hanya cocok untuk mereka yang mau berkarir di dunia akademis. Masalahnya tidak semua siswa tersebut berkarir jadi dosen atau profesor bukan?

Gartner mengajukan solusi alih-alih memperkaya siswa dengan subject matter, ia mengenalkan apa yang disebut dengan discipline matter. Pada intinya pendekatan discipline matter didasari oleh kenyataan bahwa setiap disiplin ilmu atau profesi tertentu mempunyai body of knowledge, sikap mental, dan pendekatan tersendiri yang berbeda satu sama lain dan bahkan bertolak belakang. Seorang ahli sejarah mempunyai sikap yang bertolak belakang dalam memperlakukan fakta dengan seorang ahli fisika misalnya.
Jadi penting bagi anak-anak untuk tahu sedari awal apa body of knowledge yang mendasari pola pikir dan sikap dari masing-masing profesi yang ada di masyarakat. Tentu saja pada akhirnya mereka harus memilih profesi apa kelak yang akan mereka tekuni. Gartner mengajukan bahwa siswa perlu magang atau terlibat dalam proyek dimana disana ada seorang ahli atau orang dengan profesi tertentu.

Walaupun tidak saling berhubungan, ada beberapa aspek dalam penelitian Gartner yang ternyata diperkaya oleh Shaffer. Mereka membicarakan hal sama berkaitan dengan body of knowledge, hanya saja Shaffer mengajukan solusi yang lebih konkrit, paling mungkin, dan mungkin lebih murah. Shaffer menintrodusir penggunaan games. Shaffer memperkenalkan beberapa aspek yang bisa dikembangkan lewat game disertai oleh contoh game-game yang sudah dipasarkan atau yang sedang dikembangkan oleh para ahli pembelajaran. Sekalipun game-game itu mungkin belum tersedia saat ini di Indonesia, tapi kita masih bisa memanfaatkan beberapa game yang ada untuk sarana pembelajaran anak-anak.

Roles and Rules

Penggunaan game, menawarkan sesuatu yang tidak bisa disediakan oleh sekolah. Selama ini kita berasumsi bahwa sekolah menyiapkan anak-anak untuk terjun di masyarakat atau demi masa depan mereka. Masalahnya bidang kerja atau karya macam apa yang diharapkan akan disumbangkan oleh anak-anak kita itu secara spesifik, masih sumir, masih belum jelas. Contoh sederhana : apa sih yang diperlukan untuk menjadi seorang insinyur? Apa yang dikerjakannya? Apa yang harus diketahui? Bagaimana sikap mentalnya? Jawaban dari pertanyaan itu sulit terjawab bahkan kala seseorang sudah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Yang benar-benar tahu bagaimana seharusnya seorang calon insinyur dididik dan dipersiapkan adalah insinyur profesional itu sendiri. Demikian juga kalau kita ingin mendidik seorang pengusaha. Yang benar-benar tahu bagaimana seharusnya calon pengusaha dibentuk, tentu seorang pengusaha bukan lembaga pendidikan yang menawarkan program entrepreneurship. Inilah yang disebut Shaffer dengan role and rules. Setiap profesi punya modelnya sendiri. Punya aturan-aturannya sendiri.

Shaffer menawarkan solusi game. Lewat game dengan tema tertentu dan yang dirancang secara khusus, kita tidak harus menjalani kenyataan atau kondisi sebenarnya, sebab lewat game semua itu bisa disimulasikan. Contoh termudah untuk memahami ini adalah : flight simulator. Seorang pilot jika ingin menerbangkan tipe pesawat tertentu, tidak harus secara langsung terbang dengan pesawat beneran. Ia bisa melakukannya lewat simulator. Dengan simulator ini sang pilot bisa “berperan” (role) sebagai pilot pesawat dengan tipe tertentu dan tahu aturan/prosedur (rule) yang berlaku secara spesifik untuk menerbangkan pesawat tersebut.
Seperti yang telah ditunjukkan Shaffer, simulasi seperti ini bisa diterapkan untuk berbagai bidang. Mulai bidang-bidang rekayasa konstruksi, politisi, jurnalis, ilmuwan, city planner, dan lain sebagainya.

Menyikapi game yang ada di pasaran

Sayangnya game-game yang dimaksud oleh Shaffer, belum sepenuhnya ada di pasaran. Namun bukan berarti game-game yang ada tidak bisa kita manfaatkan, ada beberapa prinsip dan penyikapan terhadap game yang bisa kita lakukan untuk menarik manfaat dari sebuah game.

Berikut ini adalah contoh beberapa game yang populer dan apa yang bisa dapatkan darinya untuk memperkaya pembelajaran anak-anak kita.

The Sims City

Game ini tentang bagaimana menjadi walikota, atau lebih tepatnya bagaimana mengurus kota. Kita diminta untuk merancang sebuah kota, mengembangkannya, dan mengatasi permasalahan yang timbul.

Lewat game ini kita akan belajar bagaimana sebuah kota dikelola : bagaimana membagi zona-zona untuk perumahan, kawasan perdagangan, kawasan industri, bagaimana menyediakan air, listrik, jalan, rumah sakit, sekolah, sarana perhubungan, bagaimana mendapatkan dana, mengelola budget, mengatasi kemacetan lalu lintas, polusi udara, tingkat kejahatan, bagaimana meningkatkan perekonomian, sampai bagaimana memanfaatkan para penasihat walikota dan menyikapi LSM!

Game ini tidaklah terlalu “mengkuatirkan” orang tua, namun manfaat terbesar bisa didapatkan kalau orang tua terlibat didalamnya.
Cobalah perkenalkan anak-anak dengan game ini dan biarkan mereka memainkannya beberapa saat. Sesuai umurnya anak-anak akan bertanya bebarapa aspek dari game ini, mulai dari cara memainkannya sampai beberapa istilah tertentu seperti : pembangkit listrik batubara sampai nuklir, tentang macam-macam kelas jalan, membaca grafik, tentang uang, tentang polusi, dan sebagainya.

Nah, dari apa yang diketahuinya lewat game tersebut, kita akan dapat memulai pembicaraan yang berbobot dan mencerahkan pada anak-anak kita. Kalau mereka tertarik pada aspek tertentu, misalnya lingkungan, maka kita bisa memperkenalkan meraka lebih lanjut dengan membahas soal isu-isu global warming, tentang bagaimana menjadi aktivis lingkungan hidup, sampai pada peran apa yang bisa kita mainkan untuk ikut melestarikan lingkungan. Tertarik dengan bandara, maka perbincangan bisa dilanjutkan dengan bagaimana sebuah bandara dibangun lengkap dengan aspek-aspek teknik sipil di dalamnya, dan seterusnya.

Kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah mengajak anak-anak keliling kota sambil berdiskusi tentang pengelolaan kota dalam The Sims City dengan membandingkannya dengan kota tempat tinggal kita sendiri lengkap dengan segala permasalahannya, lalu mintalah anak-anak untuk mensimulasikan kota tempat tinggal kita tersebut dalam game. Kontur kota beserta tataletaknya diupayakan mirip kota aslinya (kita perlu peta kota untuk ini). Lihatlah apa yang terjadi? Masalah apa yang timbul?
Nah, kemudian minta mereka untuk menyelesaikan masalah itu dengan mencoba untuk membuat desain tataletak kota tempat tinggal menurut versi mereka.

Zoo Tycoon

Adalah tentang bagaimana mengelola kebun binatang. Di dalamnya ada aspek pengelolaan dana, ada aspek-aspek marketing, aspek-aspek perencanaan dan ilmu tentang hewan.
Kita bisa memperkaya anak-anak akan dunia hewan, habitatnya, makanannya, dan lain-lain lewat game ini. Pembicaraan tentang hewan bisa medominasi diskusi kita dengan anak-anak. Lengkapi game tersebut dengan sumber-sumber lain yang bisa digunakan untuk memperkaya, misalnya dengan mencari lebih dalam tentang hewan-hewan tersebut lewat majalah National Geography.

Need for Speed

Kalau ini sesuai namanya adalah game tentang balapan mobil. Unsur “pendidikannya” mungkin kecil. Tapi kita bisa menarik anak-anak dalam diskusi tentang mobil : prinsip kerjanya, apa yang membuatnya bisa lebih cepat (dan mengapa) : apa itu senyawa Nitro?, tentang prinsip-prinsip fisika dalam mobil.

Kesimpulan

Kata kuncinya adalah keterlibatan. Anak-anak butuh interaksi dengan orang dewasa yang berpengetahuan dan matang dibandingkan dengan segala macam instruksi. Dengan menjadi terlibat sebenarnya kita tidak perlu terlalu kuatir dengan efek buruk dari game yang ada, bahkan dengan game yang kontroversial seperti Grand Theft Auto (game yang penuh dengan kekerasan, kejahatan, dunia gang). Akan lebih baik mengutarakan pandangan Anda daripada sekadar melarang.
Menjadi lebih terlibat juga secara tidak langsung menunjukkan pada anak-anak bagaimana seorang dewasa mendapatkan pengalamannya : baik pengalaman keilmuan atau yang lainnya. Menjadi terlibat, menurut saya adalah salah satu syarat mutlak untuk orang tua yang memilih meng-unschooling-kan anak-anak mereka.(###)

12 Juni 2009

Tirani Ujian Nasinal

Dunia pendidikan kita heboh saat 33 SMU mencurangi Ujian Nasional Mei 2009. Tak urung DPR dan BSNP turun tangan dan terjebak tentang perlu atau tidaknya diselenggarakan ujian ulang. Sebenarnya kecurangan ini bukanlah yang pertama. Tahun-tahun sebelumnya ujian nasional juga dinodai oleh berbagai modus kecurangan. Hanya saja tahun ini kecurangan ini lebih dramatis : dilakukan oleh dalam jumlah besar institusi sekolah secara bersama, menimpa 100% pelajar di sekolah bersangkutan. Yang paling dramatis mungkin ditolaknya siswa berprestasi dari sekolah itu yang sudah dinyatakan lulus tanpa tes oleh universitas tertentu.

Dalam tahun-tahun belakangan ini, pelaksanaan Ujian Nasional belum pernah ada padanannya dalam sejarah penyelenggaraan ujian : soal-soal ujian sampai harus dijaga polisi, pelaksanaan ujiannya diawasi oleh polisi, LSM, wakil perguruan tinggi . . . . .
Pelajar yang akan mengikuti ujian dan orang tuanya tak kalah hebohnya : ada istighosah sampai nangis-nangis segala, seolah ujian nasional adalah problem besar yang masa depan kita sangat tergantung padanya . . . . .
Melihat kecenderungannya sangat mungkin pemerintah akan meningkatkan aspek pengawasan dalam pelaksanaan ujian dan bukannya mengevaluasi perlu tidaknya ujian nasional dalam mengukur aspek-aspek pembelajaran. Dan kalau ini benar, maka kita akan menghadapi masalah besar.

Pesan yang salah

Sejak awal pelaksanaan ujian nasional ini memang mengundang kontroversi. Ia bertentangan dengan UU Sisdiknas. Menurut undang-undang ini evaluasi terhadap proses pembelajaran merupakan tanggung jawab guru dari siswa bersangkutan. Dari undang-undang ini pula kemudian pemerintah mengintrodusir Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang memberikan otonomi pada sekolah dalam proses pembelajaran.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini harus diakui merupakan sebuah langkah maju, dimana sekolah dimungkinkan untuk membuat kurikulum mereka sendiri, mengkreasikan model-model pembelajaran sendiri, mengevaluasi hasil pembelajaran dengan cara-cara mutakhir, dan lain sebagainya. Kita kenal pula adanya PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan) yang membuat suasana pembelajaran di kelas jauh lebih kondusif.

Nah, keputusan pemerintah untuk terus mempertahankan adanya ujian nasional merupakan paradoks dari penyelenggaraan KTSP. Dalam KTSP, sekolah diberi otonomi namun lewat ujian nasional, pemerintah sudah melakukan intervensi. Dan intervensi ini celakanya sangat buruk. Ia akan mematikan KTSP.

Lewat KTSP pemerintah berharap dapat memperbaiki mutu pendidikan kita, dengan mendorong para guru untuk lebih kreatif dan mandiri. Guru diharapkan mampu menerapkan metode-metode pembelajaran mutakhir yang telah ditemukan oleh para ahli. Anak-anak akan belajar dengan lebih antusias, pembelajaran mereka akan lebih membumi, kemampuan mereka lebih dihargai, dan tak hanya murid para guru pun tentu merasa lebih berdaya dan dihargai.

Akan tetapi pelaksanaan Ujian Nasional telah mengirim pesan salah pada sekolah-sekolah kita. Alih-alih berupaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolahnya, karena adanya tekanan yang besar untuk sukses dalam Ujian Nasional, para guru ini akan memilih untuk melakukan defensive teaching, mengajar untuk sekadar ”cari selamat.”
Sebab disini penghargaan bukanlah pada yang mampu mengajar dengan inovatif-kreatif, melainkan pada mereka yang mampu meluluskan banyak anak didik dalam ujian nasional. Sekalipun, para guru ini tetap bertahan dengan idealismenya, tekanan dari sekolah, rekan sekerja dan orang tua murid akan memaksa mereka untuk menjadi ”pelatih soal-soal Ujian Nasional.”

Pesan bahwa Ujian Nasional ini penting, juga datang dari pihak di luar sekolah. Pemerintah daerah, dinas pendidikan, bahkan Depdiknas sendiri ikut berkepentingan. Simak saja berbagai pernyataan misi dari dinas pendidikan seluruh Indonesia. Persentase kelulusan Ujian Nasional menjadi tujuan utama.

Satu hal lagi yang menambah daftar panjang absurditas UN adalah solusi bagi yang tidak lulus. Sekalipun siswa berprestasi sepanjang masa belajarnya di sekolah dan karenanya mungkin diterima masuk tanpa tes di perguruan tinggi, tidak berarti ap-apa kalau kemudian ia kurang beruntung hingga tak lulus UN. Perguruan tinggi tetap meminta ijazah! Betapa sangat melecehkan proses pembelajaran!
Maka kemudian Ujian Persamaan Paket C menjadi primadona. Siswa SMU yang tidak lulus UN dapat ”mencari” ijazah lewat ujian persamaan. Betapa absurdnya! Sebab ujian persamaan ini dirancang bagi mereka yang tidak berkesempatan bersekolah secara reguler. Kini ia ibarat dewa penyelamat. Logika terbalik bisa diterapkan disini : kalau perguruan tinggi itu ternyata bisa menerima ijasah persamaan bagi mereka yang tidak lulus sekolah reguler, kenapa kita repot-repot menempuh pendidikan reguler?

Yang paling memprihatinkan pesan yang salah ini mempunyai efek buruk terbesar justru pada anak didik. Mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk belajar demi memperoleh pengertian atau pemahaman. Sebab pemahaman tidak memiliki tempat di UN. Mereka tidak perlu paham untuk bisa lulus UN. Cukup menyerap apa yang diajarkan guru dan mengeluarkan lagi dengan benar pada saat yang tepat. Cukuplah dengan menghafal fakta-fakta, rumus-rumus yang dipandang benar dan mengartikulasikannya lagi lewat jawaban dalam multiple choice.
Karena itu para siswa akan mengembangkan ketrampilan bagaimana menjawab soal dan bukannya belajar untuk memahami sesuatu. Seolah-olah apa yang didapat di sekolah tidak cukup, para siswa ini ramai-ramai mengikuti bimbingan belajar (istilah bimbingan belajar ini tidaklah tepat. Lebih tepat bimbingan tes). Itulah sebabnya mudah dimengerti kenapa bimbingan belajar menjadi sangat marak.
Efek buruk yang lain adalah demoralisasi. Siswa yang tidak lulus akan runtuh kepercayaan dirinya, merasa tidak berharga, bodoh, dan seterusnya. Dan tekanan akan makin berlanjut karena secara berkala atas nama ingin meningkatkan mutu pendidikan, pemerintah akan terus menaikkan skor kelulusan (passing grade). Maka penindasan akan terus berlanjut dan makin meningkat. Lebih banyak waktu untuk latihan soal, lebih banyak biaya untuk bimbingan belajar, akan makin banyak kecurangan yang timbul demi memenuhi target yang semu dan di lain sisi makin kurangnya waktu bagi siswa untuk dirinya sendiri, untuk interaksi dengan keluarganya, dengan teman-temannya yang pada akhirnya memicu persoalan yang lebih pelik.

Solusi

Segala keruwetan ini berakar dari keyakinan bahwa tes tulis adalah cara utama dan satu-satunya untuk menilai proses pembelajaran seseorang. Padahal para ahli sudah lama mengatakan bahwa tes (yang digunakan di sekolah) tidaklah dapat digunakan untuk menilai pemahaman seseorang. Tidaklah adil rasanya bahwa seluruh proses pembelajaran yang lama itu dihakimi dalam waktu yang sangat singkat dalam suasana mencekam pula.

Para ahli memberitahu kita bahwa ada cara yang lebih efisien dan efektif untuk mengukur pemahaman seseorang. Cara itu misalnya : catatan pengamatan guru, portofolio, proyek-proyek, dan penugasan pada proyek yang menuntut pemahaman akan suatu hal –bukan sekadar right answer.
Semua itu sebenarnya sudah termuat dalam KTSP, membiarkan sekolah menerapkan KTSP pada akhirnya akan meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah-sekolah kita. Pemerintah hanya perlu memberikan dukungan saja. Hingga pada akhirnya solusinya sangatlah mudah dan sederhana : pemerintah hanya perlu memberikan teladan bagaimana caranya konsisten pada keputusan yang mereka buat sendiri. Maka yang diperlukan adalah menghapus UN dan menyerahkan penilaian itu pada pihak guru dan sekolah.

Kalau pemerintah tak kunjung mau menghapus UN, maka ada cara mudah yaitu : jangan jadikan UN sebagai satu-satunya penentu masa depan anak-anak kita. Jangan mau kehidupan keluarga Anda menjadi tak normal hanya gara-gara UN. Jangan biarkan UN menjadi tiran dalam kehidupan kita. Kalaulah terpaksa mengikuti UN, katakan bahwa semua itu tidak lebih dari permainan belaka sama seperti game-game yang ada di PS, Nintendo, atau komputer Namanya juga permainan kadang kalah dan kadang menang, take it easy. Dan UN tidaklah mencerminkan kemampuan anak-anak kita sesungguhnya. (###)