Saya
tidak bermaksud menggugat peran agama disini. Ungkapan judul di atas tak lebih
dari upaya mencari jawaban jika muncul pertanyaan itu, terutama dari anak-anak
saya, dan terutama karena kekuatiran mereka akan kehilangan iman baik
terang-terangan atau diam-diam. Saya terinspirasi oleh Prof. Jeffrey Lang,
seorang matematikawan Amerika yang semula beragama Katolik, menjadi atheis,
lalu kemudian menjadi seorang Muslim. Dalam upayanya menjelaskan Islam pada
anaknya kelak (saat itu), dia telah membuat serangkaian tulisan yang tak
dinyana menjadi malah menjadi buku : Bahkan Malaikat Pun Bertanya, Berjuang
Untuk Berserah, Aku Beriman Maka Aku Bertanya, Aku Menggugat Maka Aku Kian
Beriman.
Bagi
saya, cara Sang Profesor mengimani Islam dan upayanya untuk menjadikan Islam
untuk menjawab tantangan jaman, sangat menarik. Harus diakui cara kita
mengajari anak kita atau mengajak orang lain untuk lebih taat, cenderung
condong kepada klaim atas keselamatan di akhirat kelak. Walaupun agama memang
diturunkan antara lain untuk keselamatan hidup sesudah mati (yang jauh lebih
penting dibanding hidup kita saat ini), tetapi tentu untuk keselamatan dunia
saat ini juga. Apa bukti bahwa agama dipahami sebagian besar berdasar klaim
keselamatan akhirat? Marilah kita tanya pada diri kita apa yang membuat kita
beragama?
Orang
Islam akan mengatakan supaya masuk surga (selamat di akhirat) karena tidak ada
agama yang diridhio Allah kecuali Islam. Orang Kristen akan mengatakan tidak ada
jalan keselamatan kecuali melalui Yesus. Nah, karena bagi sebagian besar kita
akhirat itu masih kelak, tak nyata saat ini, kita cenderung gagal memaknai
peranan agama dalam keseharian hidup kita. Tak percaya? Ajukan pertanyaan
sederhana (tapi tolong jawabannya bukan yang berhubungan dengan pahala atau
surga): Apa manfaat kita sholat? Apa manfaat berbuat baik? Bahkan mungkin lebih
subversif : Apa manfaat menyembah Allah?
Ketidakmampuan
(atau ketidakberanian) mengajukan pertanyaan semacam itu dan menemukan
jawabannya, dapat membuat kita diam-diam tak merasa butuh atau malah tak percaya
agama (contohnya : banyak orang yang tak menjalankan kewajiban agamanya).
Masalah
terbesar yang dihadapi agama manapun, adalah pertanyaan atas relefansinya. Mengapa?
Pertanyaan atas relefansi mudah membuat orang kehilangan imannya. Di Eropa ada renaissance (yang katanya pencerahan
dari kegelapan agama), sekularisasi, orang cenderung menjadi atheis atau paling
tidak “bukan orang taat”. Jika memang agama itu mengajarkan kedamaian mengapa
yang terjadi justru perang antar agama, atau bahkan antar pemeluk agama yang
sama? Ada Perang Salib, perang antar Kristen-Katolik, perang antara
Sunni-Syiah, dan seterusnya.
Dalam
tayangan di kanal History, Greatest Tank
Battle, ada komandan tank Jerman yang kemudian tak percaya lagi pada Tuhan,
bahkan setelah ia selamat berkali-kali dari tembakan langsung yang mengenai
tank-nya. Logikanya khan ia harusnya
berterima kasih pada Tuhan karena telah diselamatkan nyawanya. Tetapi yang
terjadi sebaliknya. Sebab katanya bagaimana mungkin bisa terjadi ia (yang
Kristen) berdoa pada Tuhan agar ia bisa mengalahkan tank Rusia, sementara pada
saat yang sama si Rusia (yang juga Kristen) berdoa pada Tuhan yang sama agar
bisa mengalahkan tank Jerman! Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan hal ini
terjadi? Atau mungkin kita pernah mendengar cerita orang yang kehilangan iman
karena mendapat cobaan yang sangat berat. Kalau orang yang diam-diam sebenarnya
tidak mempunyai iman sih, banyak kita jumpai disekitar kita.
Di
jaman ini, pertanyaan semacam itu sangat mungkin tercetus oleh anak-anak kita.
Dan, kadang jawaban yang berbau klaim kebenaran
primordial tak banyak membantu. Jadi saya mencoba sekuat tenaga mencari
jawaban atas pertanyaan itu yang tak berbau klaim kebenaran primordial.
Kadang-kadang jawaban berbau kebenaran primordial agak terlalu disederhanakan.
Misalnya apa yang harus kita jawab jika anak-anak bertanya : mengapa kita harus
sholat? Jawaban yang paling mudah adalah : karena hal itu diperintahkan oleh Allah.
Tentu saja jawaban itu benar adanya, tetapi menurut saya tidak cukup. Jawaban seperti
itu menurut saya membuat anak berpikir (sadar atau di bawah sadarnya) bahwa
Allah memerlukan sholat kita, bahwa Allah perlu disenangkan dengan semacam “upeti”.
Padahal sebenarnya Allah tidak butuh semua itu, kitalah yang membutuhkan
sholat. So, kalau kita katakan
kitalah yang butuh sholat, bisakah kita jelaskan dengan tuntas apa manfaat
sholat itu? Apa perbedaan nyata yang
kita alami sebelum dan sesudah sholat? Kalau ternyata kita tak mampu
menjawabnya, maka diam-diam sebenarnya kita telah mempertontonkan bahwa tidak
ada beda antara sholat dan tidak sholat! Kecuali tentu bahwa paling tidak kita
tak berdosa, namun masalahnya kok berani-beraninya kita merasa sholat kita
diterima? Bukankah Rasulullah SAW mengisyaratkan ada orang yang sholatnya
sia-sia,yang berarti tidak diterima alias tak sholat di mata Allah?
Kembali
ke judul di atas bisakah kita menjawab pertanyaan itu? Saya pikir mencari
jawaban atas pertanyaan itu –beserta pertanyaan turunannya, merupakan pencarian
sepanjang hidup. Ia merupakan upaya terus menerus untuk mengenal Sang Khalik,
sesuatu yang perlu dikenalkan pada anak-anak kita(###)